-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tuhan Sejauh Doa, Yang “Trending” Setan

Minggu, 10 Oktober 2021 | 12:54 WIB Last Updated 2021-10-10T05:54:28Z

Dalam sehari bisa satu sampai lima dan enam kali dalam waktu lima menit sampai dua jam kita menyerukan nama-Nya. Kita memuji dan memuliakan nama-Nya seraya memohon belas kasih dan kemurahan-Nya.

Namun setelah nama-Nya kita gaungkan dalam doa-doa kita di rumah, biara, gereja dan rumah ibadah lainnya, kita bisa menghabiskan waktu 30 menit bahkan hingga berjam-jam untuk membicarakan keburukan orang lain. Kita beri panggung kepada “setan” sedemikian leluasa hanya untuk membicarakan sepuluh keburukan orang lain dan seringkali satu atau bahkan hanya setengah kebaikan.

Enam hari diberikan Allah kepada kita untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari dan hanya satu hari, itupun tidak seluruh hari hanya berkisar antar satu sampai satu setengah jam, namun enam hari dan waktu satu sampai satu setengah jam itu sepertinya tidak mampu menerangi jiwa, pikiran, mata, telinga serta bibir kita sehingga kita lebih suka melihat, mendengar dan membicarakan keburukan orang lain.

Allah yang memberi waktu enam hari untuk kita dan hanya menyediakan satu sampai satu setengah jam untuk-Nya namun Dia hanya sejauh doa, Dia hanya sejauh pujian yang berhenti di depan altar rumah kita, di ruang-ruang doa biara maupun di dalam gereja dan rumah ibadah lainnya.

Semua kebaikan, kebesaran nama Allah yang dipuji dan disembah di ruang-ruang doa biara, gereja dan rumah ibadah lainnya sedemikian cepat “dikalahkan” oleh suara-suara sumbang di layar-layar youtube yang menghujat, membenci dan menyebarkan hoax karena urusan politik serta yang memfitnah karena urusan agama. Hujatan, kebencian, hoax, fitnah lebih tenar untuk dibagikan (share) dan direact daripada renungan-renungan indah dari Sabda-Nya yang menguatkan iman dan meneguhkan harapan.

Bahkan tangan-tangan suci yang setiap hari memegang buku-buku doa dan Kitab Suci di ruang-ruang doa biara, gereja dan rumah ibadah lainnya, lebih cepat untuk membagikan foto maupun video para korban kekerasan atau para teroris ketika ada perkelahian, perang maupun bom bunuh diri disertai kutukan dan hujatan dari pada suara kenabian yang mengajak perdamaian dalam satu suara “jangan kau bunuh Tuhan.”

Catatan akan Sabda-Nya yang tersebar di dinding-dinding facebook, hampir tidak begitu laris untuk dibagikan namun ketika ada catatan kritikan, ramai-ramai menekan tombol share untuk dibagikan yang disertai dengan aneka macam caption dan yang selalu menjadi idola adalah “caption dalam bentuk hujatan dan penghakiman.”

Kesalehan seakan menjadi mantel penutup segala dusta hati kita pada Allah, mendekati dan memuji Allah namun serentak menjauhkan-Nya alasan usang yang selalu kita berikan kepada Allah; “namanya juga manusia lemah.” Lantas untuk apa berdoa, kalau akhirnya segela keburukan selalu dibenarkan oleh alasan ini?

Maka tepat Sabda Allah; "Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yes 29:13).

Dari mulut kita yang memuji dan memuliakan nama-Nya namun dari mulut pula, kita menghakimi dan menghina sesama (bdk. Rom 14:10). Dari mulut, kita memuji dan memuliakan nama-Nya, namun dari mulut pula, kita membuat setan menjadi trending.

Manila: 09-Oktober 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update