-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Untuk Para Pemilik Agama: Menutup Mulut Dan Menertawakan Diri Sendiri

Sabtu, 02 Oktober 2021 | 06:24 WIB Last Updated 2021-10-01T23:24:24Z
Kemarin malam ada umat saya dari Samarinda mengirim pesan WA kepada saya seraya bertanya; “Romo, apakah Romo pernah marah dan kecewa sama Tuhan”? Saya menjawab; “Tidak pernah”! Karena kalau saya protes dan marah kepada Tuhan, itu pertanda saya membenarkan kesalahan saya.

Membenarkan kesalahan sendiri, itu yang selalu kita jumpai hingga saat ini. Kekacauan dan gosip itu muncul bukan karena kesalahan orang lain tetapi karena banyak orang beragama yang membenarkan kesalahan sendiri dengan mencari kesalahan dan mempersalahkan orang lain.

Setiap orang punya kesalahan. Setiap orang punya masa lalu yang kelam dan gelap. Tetapi apakah harus menjadi konsumsi gosip atau menjadikan sebagai bahan kotbah yang sinis?

Padahal kita semua juga tahu bahwa saat kita menggosipkan sesama kita walaupun apa yang digosipkan itu benar namun tidak melakukan pendekatan dengan yang bersangkutan tetapi justru menjauhkannya dan terus menyebarkan keburukannya adalah dosa. Bahkan menjadi dosa besar ketika secara sadar, terus menerus dan tahu bahwa gosip adalah sebuah dosa namun masih saja menggosipkan sesama karena secara sadar kita merusak kebajikan ilahi di dalam hati kita; kasih (bdk, KGK. 1874).

Banyak orang, tidak hanya umat tetapi juga kaum berjubah seringkali jatuh dalam sikap menggosipkan orang lain. Kesalahan orang lain selalu diceritakan bahkan dengan tujuan yang sangat tidak manusiawi yaitu merusak nama baik orang tersebut, namun kesalahan sendiri disembunyikan walau juga sedang mempertontonkan keburukannya sendiri melalui panggung gosip. Bahkan tidak jarang keburukan orang lain menjadi bumbu “kotbah” dalam nada-nada sinis hanya untuk mempermalukan orang tersebut,

Pola perilaku yang sama juga terjadi pada oknum umat beragama lain. Mereka sibuk menggosipkan ajaran dan Kitab Suci agama lain. Mereka sibuk mengumbar gosip ayat-ayat Kitab Suci agama lain, namun tidak malu menutupi keburukannya sendiri yang secara sadar mereka pertontonkan. Keburukan mereka sendiri dianggap sebagai kebenaran walau berisi kebohongan.

Bahkan karena tidak malu menutupi mulut dan menertawakan diri sendiri, mereka sampai lupa bahwa mereka sedang merendahkan Tuhan serendah-rendahnya dengan mengambil peran dan kuasa Tuhan menjadi hakim atas ajaran dan Kitab Suci agama lain.

Ujian terberat manusia salah satunya adalah pada bicara (Sir 27:5). Kadang kita rajin membicarakan keburukan orang lain sehingga lupa membicarakan dan mengakui keburukan sendiri. Bahkan lupa untuk sejenak menutup mulut kita, sejenak diam seraya menertawai diri kita sendiri yang ternyata lebih buruk dari mereka yang kita bicarakan.

Kita hanya bisa mendekati seseorang yang bersalah dan berbeda sekalipun dan bisa membawanya pada sebuah pertobatan dan persahabatan, ketika kita berani menutup mulut kita untuk membicarakan atau menggosipkan keburukan orang lain, ketika kita berani menutup mulut untuk menggosipkan ajaran dan Kitab Suci agama lain, seraya menertawakan diri kita sendiri dan berkata;

“Juga debu gosip yang melekat pada mulutku, kukebaskan didepan diriku sendiri sebagai peringatan bagi diriku sendiri” (bdk. Mrk 6:11).

Manila: 30-September 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update