Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Blunder Sang Pengkotbah

societasnews.id
Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T04:14:35Z
Blunder Sang Pengkotbah
Foto istimewah


“Tidak semua hal harus dikatakan namun lebih banyak direnungkan.”

Kemarin sekitar jam 11.00 ada umat berbicara dengan saya. Ia dengan jujur mengatakan kepada saya bahwa kadang saya benci dengan saya karena usulannya seringkali tidak saya tanggapi dan tidak diikuti.

Saya mengatakan kepadanya dengan jujur demikian;

“Tidak semua usulanmu harus segera saya tanggapi dan setujui serta laksanakan. Karena saya butuh waktu untuk merefleksikan usulanmu itu, apakah sesuai dengan kehendak Allah dalam hal ini ajaran Gereja Universal dan pedoman pastoral Keuskupan serta apakah sesuai dengan situasi umat? Jadi tidak saya tanggapi bukan berarti saya tidak setuju ataupun menolak, namun melihat situasi dan kondisi yang tepat untuk menghasilkan buah yang baik bagi kehidupan rohani umat beriman.”

Sebagai orang beriman apalagi sebagai seorang imam, segala hal yang dikatakan atau ditulis menjadi acuan dan pijakan bagi umat untuk mengikutinya. Maka dalam menyampaikan ataupun menuliskan segala pernyataan termasuk didalamnya ada kritikan harus selalu didahului dengan proses refleksi, discernment.

Proses refleksi dan discernment tidak hanya menyangkut apa yang akan disampaikan namun juga mempertimbangkan kapasitas, posisi dan dasar dari pernyataan sehingga setiap pernyataan bukannya melahirkan perpecahan dan kegaduhan melainkan persatuan dan ketaatan.

Harus kita akui bahwa seorang imam diminta untuk berbicara maupun memberikan pernyataan bukan semata-mata karena sang imam itu pintar, memiliki wawasan dan jaringan yang luas, melainkan karena kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama yang dipandang memiliki kapasitas untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan iman dan moral. 

Karena kalau pintar serta memiliki wawasan dan jaringan yang luas, kaum awampun banyak yang lebih pintar dan wawasan serta jaringan mereka lebih luas. Maka apapun posisi dan kedudukan kita sebagai seorang imam, sudah jelas kapasitas kita untuk memberikan pernyataan seputar iman dan moral meskipun itu berkaitan dengan situasi politik dan sosial. 

Kritikan sekalipun acuannya sudah jelas yaitu iman dan moral agama kita yang disampaikan agar tidak terjebak pada opini liar ketika memberikan pernyataan terkait situasi, kebudayaan dan agama lain yang justru menjadikan pernyataan itu bukan sebagai “kotbah” yang mencerahkan, meneguhkan dan mempersatukan melainkan blunder yang memecah belah.

Blunder sang pengkotbah seringkali terjadi dan menimbulkan pertentangan ketika menyampaikan pendapat maupun pernyataan tidak disertai oleh sebuah proses refleksi ataupun discernment terlebih dahulu termasuk tidak menjadikan ajaran-ajaran iman dan moral Gereja sebagai pijakan sehingga pernyataan atau pendapat justru kelihatan sangat kental dengan muatan politik dan kepentingan politik.

Agar setiap pendapat, pernyataan maupun kritikan menjadi sebuah pewartaan iman maka pantas untuk disadari bahwa;

“Tidak semua hal harus dikatakan namun lebih banyak direnungkan.”

Karena Yesuspun melakukan hal yang senantias kita teladani sebagai sang pengkotbah;

“Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.” (Luk 5:16).

Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Blunder Sang Pengkotbah

Trending Now

Iklan