Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Doamu Meruntuhkan Maklumat “Haram”

societasnews.id
Kamis, 16 Desember 2021 | Desember 16, 2021 WIB Last Updated 2021-12-17T02:08:31Z
Doamu Meruntuhkan Maklumat “Haram”


“Meskipun kami masih keluarga, saya tetap menghormati dan menghargai jika adik saya Nurul tidak mengucapkan selamat hari raya Natal kepada saya karena fatwa itu. Namun doanya itu mempertegas spiritualitas keberagamaannya melebihi para perumus maklumat fatwa.”

Sudah menjadi kebiasaan umat Kristen Katolik menjelang perayaan Hari Raya Natal, selalu dilaksanakan Novena yang biasa dikenal dengan sebutan Simbang Gabi (Misa pada malam hari) atau Misa de Gallo (Misa pada subuh/saat ayam berkokok pertama kali). Misa pada malam hari biasanya berakhir pada pukul 10.00 malam karena ada dua-tiga kali misa. Tiba di paroki sekitar jam 11.00. Istirahat sejenak dan mulai menyusun kotbah kembali untuk keesokan harinya.

Baca juga: Natal Kami Semakin Bermakna Dengan Laranganmu

Kadang jam 11.30 atau bahkan jam 12.00 tengah malam baru bisa istirahat. Dan jam 3.00 subuh harus sudah bangun untuk mempersiapkan diri merayakan misa pada jam 4.00 subuh. Kadang memang agak malas-malasan bangun karena cuacanya dingin dan rasa ngantuk itu masih menguasai raga yang letih.

Vitamin C serta makan dan minum secukupnya menjadi kekuatan. Dan tentu doa menjadi kekuatan rohani untuk tetap tegak berdiri melayani umat. Karena meskipun rasa lelah dan ngantuk membujuk raga untuk beristirahat sejenak, pelayanan lainnya seperti pemberkatan rumah, jenasah dan baptisan serta pengakuan dosa tidak bisa diajak komrompi untuk mengatakan “tidak” atau maaf sedang beristirahat.

Baca juga: Kades di Brebes Ditahan Gegara Tilap Dana Desa Tahun 2019, Jumlahnya Sebesar ini

Pagi ini, tepat jam 3 subuh saya bangun. Sebelum mandi kebiasaan saya adalah mencek wa maupun mesenger untuk mencek permintaan doa dari teman-teman. Namun pagi ini, bukan permintaan doa yang saya temukan, melainkan seuntai doa dari adik sepupu saya (Nurul) dalam wa grup keluarga yang mayoritasnya adalah beragama Islam. Opah adik Nurul dan nenek saya adalah kakak adik kandung, yang mana opanya dan nenek saya juga bergama Islam hingga menuju kepada sang Pencipta.

“Kaka Tuan (Pastor)…semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah.” Demikian sepenggal sapaan dari adik Nurul yang bagi saya adalah sepenggal doa penguat dan peneguh perjalanan pelayanan saya sebagai seorang imam selama perayaan Simbang Gabi (Misa de Gallo).

Ditengah hiruk pikuk fatwa haram mengucapkan selamat hari raya Natal, adik saya Nurul justru membuka mata hati saya bahwa doa adalah nilai dan spiritualitas tertingga dari  kehidupan beragama. Meskipun kami masih keluarga, saya tetap menghormati dan menghargai jika adik saya Nurul tidak mengucapkan selamat hari raya Natal kepada saya karena fatwa itu. Namun doanya itu mempertegas spiritualitas keberagamaannya melebihi para perumus maklumat fatwa.

Baca juga: Kemunculan Metaverse dan Ketiadaan Jaringan Internet di Daerah Terpencil

Doanya tidak hanya meneguhkan dan menguatkan saya, namun juga menembus batas dan meruntuhkan segela maklumat fatwa, apapun fatwa yang dikeluarkan tak akan memagari persaudaraan kekeluargaan. Maka cara untuk melampaui maklumat fatwa haram adalah dengan mendoakan sebagaimana doa adik saya Nurul. 

Doa dan saling mendoakan sebagaimana yang kuterima dari adik saya Nurul ditengah hiruk pikuk tahunan fatwa haram mengucapkan selamat hari raya Natal menyadarkan saya bahwa perbedaan itu semakin mendekatkan satu sama lain ketika doa menjadi sumber dan puncak dari kebersamaan dalam keberagaman.

Baca juga: Penyegaran Rohani Umat: Memperdalam Tata Perayaan Ekaristi

“Ketika doa dan saling mendoakan menjadi sumber dan puncak dari kebersamaan maka segala maklumat haram dengan sendirinya tak bernilai. Karena kekuataan doa pada akhirnya “meruntuhkan dan melampaui” batas maklumat haram.”

Manila: 16-Desember 2021

Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Doamu Meruntuhkan Maklumat “Haram”

Trending Now

Iklan