Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Karena Engkau Seorang Imam

societasnews.id
Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T03:49:27Z
Imam, biarawan/i dan religius
foto istimewah


“Suara kemanusiaan seorang imam menjadi tidak berdaya, ketika atas nama solidaritas dan kemanusiaan harus memilih jalan untuk menjadi seorang penguasa atau duduk dalam sebuah lingkaran kekuasaan.”

Tetaplah menjadi seorang imam yang bersuara “keras” atas nama kemanusiaan dan solidaritas. Tetaplah menjadi seorang imam yang menyuarakan kenabian iman dan moral tanpa harus menjadi seorang penguasa ataupun posisi tertentu dalam pemerintahan.

Saat masih menjadi seorang imam, banyak orang menyanjung dan mengikutimu. Karena engkau seorang imam, maka suaramu adalah suara yang meyakinkan umat dan masyarakat sekitar akan keadilan, kebenaran dan perdamaian. Namun ketika meninggalkan tugas pelayanan sebagai seorang imam dan masuk dalam dunia politik praktis, sekian banyak dari mereka yang pernah mengikuti dan menyanjungmu akan memilih jalan lain yang lebih memberikan jaminan materi. 

Mereka yang semula bersatu berada di pihakmu dan mendukungmu karena engkau seorang imam untuk menyuarakan keadilan, kebenaran dan perdamaian pada akhirnya menjadi tercerai berai bahkan mempertontonkan konflik berkepanjangan di depanmu, dihadapan matamu atas nama perbedaan kepentingan politik yang engkau sendiripun pada gilirannya tak mampu mempersatukan kembali.

Meyakinan sebuah kekuataan saat engkau masih menjadi seorang imam lebih mudah daripada ketika engkau meninggalkan imamatmu atas untuk masuk dalam dunia politik praktik atas nama memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Suaramu yang dulunya saat engkau masih menjadi imam memberikan magnet harapan baru bagi umat dan masyarakat dengan mudah diikuti tanpa pernah bertanya; “berapa yang engkau berikan kepada kami”, namun saat engkau tidak lagi menjadi imam dan masuk dalam ruang publik politik praktis pertanyaan; “mampu bayar berapa” dari sebagian kecil pendukungmu menjadi pertanda awal bahwa engkau siap ditinggalkan untuk berjuang sendiri.

Nama besar dan menjadi terkenal melalui suara kritismu saat jubah imammu masih membalut dirimu menjadi jalan menyatukan kekuatan karena engkau seorang imam. Namun saat jubah yang selama ini mengokokohkan perjuanganmu bersama wong cilik engkau korbankan demi sebuah kekuasaan yang engkau atasnamakan memperjuangkan keadilan, kebenaran, perdamaian dan kesejahteraan bersama pada gilirannya akan meruntuhkan kesatuan itu sendiri.  

Pengalaman membuktikan bahwa ketika seorang imam yang selama menjadi seorang imam sangat vokal dan kritis namun kemudian terdorong yang menurutnya oleh kemanusiaan, solidaritas, keadilan, kebenaran dan perdamaian-meninggalkan imamatnya justru “gagal” dan sepertinya tidak mampu memperjuangkan semua yang pernah diperjuangkannya sewaktu menjadi imam.

Kekuatan seorang imam bukan semata karena kecerdasan tapi jubah yang membalut raga menjadi pengingat bahwa keadilan, kebenaran dan perdamaian yang diperjuangkan hanya akan tetap kokoh kuat dan mencapai hasil yang maksimal ketika Ekaristi, Doa dan Refleksi menjadi pusat dan sumber dari perjuangan itu.

Maka ketika Ekaristi, Doa dan Refleksi yang sejatinya menjadi sumber dan pusat dari perjuangan itu dilalaikan secara perlahan akan mempengaruhi kehidupan rohani termasuk tutur kata dan bahasa dalam sebuah perjuangan. Bahkan bahasa yang merupakan buah dari Ekaristi, Doa dan Refleksi pada akhirnya melahirkan perpecahaan karena sang imam kehilangan pegangan spiritual yang sejatinya menjadi sebuah latihan melakukan discernment atau pembedaan roh sehingga pernyataan yang disampaikan tidak menjadi sebuah kegaduhan publik.

Secara pribadi; saya merindukan sosok sang imam seperti Romo Mangunwijaya yang memiliki jaringan yang kuat bahkan sangat terkenal oleh semua kalangan hingga wong cilik justru tetap teguh berada dan berjalan bersama dengan wong cilik sampai akhir hayatnya. 

Dari Romo Mangun, saya belajar dan menemukan bahwa Beliau adalah imam sejati. Karena Beliau adalah imam maka Beliau menjadikan Ekaristi, Doa dan Refleksi sebagai sumber perjuangannya yang mengantarnya pada sebuah refleksi; “Dari Altar Ke Pasar.” Romo Mangun menjadikan spiritualitas imamatnya sebagai pijakan untuk menyatukan perjuangannya dengan wong cilik.

“Gelora Hati Harus Disetir Oleh Otak Yang Pandai Berkalkulasi, Namun Otak Harus Dijiwai Hati” (Romo Mangun).

Dari sepenggal kata bijak Romo Mangun ini menyadarkan Sang Imam bahwa;

“Gelora perjuangan kemanusiaan harus disertai dengan kecerdasan. Namun kecerdasan harus dijiwai oleh Ekaristi, Doa dan Refleksi.”

Jika untuk ketiga hal ini (Ekaristi, Doa dan Refleksi) kita tidak setia bagaimana kita mampu setia mengurus hal dan situasi yang lebih besar? (bdk. Luk 16:10).

Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Karena Engkau Seorang Imam

Trending Now

Iklan