Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Kebahagiaan Tanpa Kesetiaan Adalah Ilusi

societasnews.id
Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T04:20:18Z
Kebahagiaan Tanpa Kesetiaan Adalah Ilusi


Beberapa kali saya ditawari oleh rekan-rekan imam diosesan keuskupan Novaliches untuk pindah menjadi seorang imam diosesan seperti mereka. Alasannya cuma satu karena sudah bisa berbahasa Tagalog dan seperti orang Filipina.

Mendengar ajakan ataupun tawaran mereka seperti itu saya selalu menjawab;

“Kemampuan saya berbahasa Tagalog justru membuat saya semakin bahagia, setia dan taat pada pilihan awal saya yaitu menjadi seorang Imam Religius dalam Tarekat Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF).Kebahagiaan dan sukacita saya sudah cukup dengan menjadi seorang Imam dalam tarekat MSF. “

Banyak dari kita seringkali merasa bahagia ketika dengan kemampuan atau kepintaran kita menaklukan segala hal namun lupa untuk menaklukan keinginan dan kehendak pribadi hanya untuk memuaskan orang lain. Kita merasa bahagia ketika kita bisa memuaskan kehendak dan keinginan orang lain meski kita harus mengkhianti kesetiaan dan ketaatan kita. Kita merasa puas ketika dengan kemampuan dan kepintaran kita bisa memperdayai orang lain dengan logika-logika yang merupakan hasil pemikiran kita sendiri.

Kemampuan adalah rahmat yang seharusnya dikembangkan untuk persatuan dan bukan perpecahan. Kemampuan sebagai seorang Kristen Katolik sejatinya adalah Jalan yang membawa orang pada kesetiaan dan ketaatan dan bukan menjadi jalan untuk menghancurkan dan menyesatkan.

Menjadi seorang Kristen Katolik itu adalah rahmat panggilan yang pertama dan utama adalah panggilan untuk setia dan taat. Kebahagiaan sebagai seorang Kristen Katolik ataupun sebagai seorang Imam bukan pertama-tama karena kemampuan memuaskan keinginan dan kehendak sebagian kecil orang dan umat, melainkan karena dalam setiap kesulitan dan godaan kita masih tetap setia dan taat mengikuti kehendak Allah yang ditemukan dalam setiap ajaran resmi Gereja termasuk Paus dan para Uskup.

Ketika ada yang bertanya kepada saya “apa yang membuat saya bahagia sebagai seorang imam?” 

Jawaban saya singkat; setia dan taat dalam situasi atau keadaan apapun. Karena kebahagiaan itu tidak datang dari orang lain atau juga bukan semata karena bisa memuaskan orang lain tetapi karena mampu bertahan. Bertahan atau setia bukan secara “buta” melainkan karena ada pemurnian motivasi menjadi seorang Kristen Katolik maupun iman.

Kesetiaan dan ketaatan adalah sumber sukacita dan kebahagiaan karena darinya ada kemauan untuk melakukan discernment (pembedaan roh) dan pemurnian motivasi sehingga kemampuan yang dimiliki menjadi jalan untuk mengubah setiap kesulitan dari diri kita ataupun dari setiap permasalahan yang dihadapi menjadi berkat. 

Itulah makna terdalam dari Salib. Salib menjadi jalan untuk mengalami sukacita kebangkitan karena di sana ada Kesetiaan dan Ketaatan yang dihidupi dan dinyatakan oleh Yesus Kristus kepada kita;

“Ya Bapa, kedalam tanganmu Kuserahkan nyawaKu.” (Luk 23:46).


Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kebahagiaan Tanpa Kesetiaan Adalah Ilusi

Trending Now

Iklan