Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Kejujuran Beragama

societasnews.id
Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T07:27:14Z
Kejujuran Beragama
Foto istimewah


Dengan mengantongi enam (6) agama yang sah dan diakui oleh pemerintah Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghuchu seharusnya menjadikan Indonesia lebih baik dalam hal religiositas dan moral.

Namun dalam kenyataannya; hadirnya enam agama ini sepertinya tidak “berdaya” membendung gerakan diskriminasi, kekerasan dan terorisme atas nama agama. Bahkan beberapa hari terakhir ini pemberitaan yang menghebokan seluruh Indonesia adalah ditangkapnya seorang pengurus MUI yang diduga kuat terlibat dalam Jaringan Teroris Islamiyah.

Banyak teroris yang sudah ditangkap oleh pihak Densus 88, namun selalu saja masih ada teroris di manapun. Beberapa ormas keagamaan yang dianggap intoleran telah dibubarkan oleh pemerintah bahkan pentolan mereka sudah dipenjara namun secara ideologi pergerakan mereka masih eksis di rahim Republik Indonesia.

Terhadap kenyataan ini, saya akhrinya menemukan satu alasan bahwa gerakan-gerakan intoleran meskipun sudah dibubarkan namun ideologi mereka masih eksis dan terorisme atas nama agama masih saja menjadi persoalan bangsa karena KITA TIDAK JUJUR BERAGAMA.

Ya, kita memang tidak jujur beragama! Ketidakjujuran dalam beragama itu nampak dari sikap umat beragama yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah Pembela Tokoh Agama dan Kelompok kedua adalah Pembela Agama.

Kelompok pertama; selalu membela gerakan intoleran bahkan para teroris karena kepentingan politik. Mereka tidak peduli terhadap keselamatan bangsa karena gerakan intoleran dan teroris. Yang mereka pedulikan adalah keselamatan kepentingan kelompok dan politik. Maka isu yang selalu mereka hembuskan adalah isu kriminalisasi ulama sebagai gerakan provokatif untuk menyalahkan pemerintah dan Densus 88 serta aparat keamanan  ketika anggota atau bagian dari kelompok mereka ditangkap.

Dan itu terbukti misalnya pernyataan yang dilontarkan oleh Fadli Zon untuk membubarkan Densus 88 beberapa waktu lalu yang didukung oleh sebagian anggota partisannya. Atau juga pernyataan salah seorang anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS yang mencoba mengalihkan pengangkapan salah seorang oknum pengurus MUI oleh Densus 88 dengan membangun opini baru untuk menyalahkan Densus 88 dan aparat TNI-Polri lainnya. Isu agama dan ulama kembali disuarakan hanya untuk mempersalahkan pemerintah (bdk. Kompas tv, 16/11/2021).

Atau juga pernyataan pengurus MUI yang melihat penangkapan seorang pengurus mereka tidak berhubungan dengan MUI sebagai kelembagaan artinya oknum. Tidak pernah kita mendengar ungkapan jujur bahwa kami dan lembaga telah kecolongan dalam hal penempatan sebagai pengurus MUI.

“Bagaimana mungkin ada tindakan antisipatif untuk mencegah kejadian yang sama ketika tidak ada kejujuran untuk mengakui kelemahan dalam penerimaan dan penempatan orang dalam kepengurusan sebuah lembaga?”

Kelompok ini secara sadar, tahu dan mau membela tindakan intoleran ataupun teroris karena berhubungan dengan kepentingan politik dan misi kelompok tersebut yang sepaham dalam hal ideologi meskipun tindakan mereka secara jelas dan terang benderang menodai dan melecehkan agama tersebut. 

Kelompok kedua; membela agama dengan berdalih para teroris dan kaum intoleran adalah tidak beragama. Pernyataan ini lahir dari kaum saleh yang mengutuk tindakan para teroris dan kaum intoleran namun pada saat yang bersamaan seakan membela mereka dengan berlindung di balik pernyataan mereka “tidak beragama.”

Kita menutup mata terhadap motivasi dan perjuangan serta ideologi yang mereka suarakan ketika melakukan tindakan intoleran dan terorisme. Bukan hanya atribut atau simbol yang mereka kenakan dan bawa namun landasan perjuangan mereka selalu mengutip ayat-ayat Kitab Suci menunjukan dengan terang benderang bahwa mereka orang beragama namun maaf kita malu untuk mengakui sehingga dengan pernyataan bahwa mereka “tidak beragama” selalu membuka peluang bagi mereka untuk terus bergerak melakukan tindakan intoleran maupun terorisme.

Dari sini kita akhirnya sadar bahwa ketidakjujuran kita dalam beragama untuk mengakui kekurangan dan kelemahan pada gilirannya akan terus membuka peluang tindakan intoleran dan terorisme.

“Ketika seorang yang jujur dan saleh mengetahui dengan terang benderang tindakan buruk temannya sendiri namun kemudian tidak mengakuinya lagi sebagai teman sejatinya dia sendiri juga sedang berbuat tidak jujur dan mengamini tindakan buruk temannya itu dan tidak ada usaha untuk mempertobatkannya.”

Maka kalau Sabda Yesus hari ini; “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu” (Luk 19:42), maka mulai hari ini kita bangsa Indonesia juga sejatinya mengerti apa yang perlu untuk damai sejatera bangsa Indonesia yaitu JUJUR DALAM BERAGAMA.


Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kejujuran Beragama

Trending Now

Iklan