Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Ketaatan Membuahkan Inkulturasi Sejati

societasnews.id
Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T07:26:25Z


Ketaatan Membuahkan Inkulturasi Sejati


Inkulturasi sejati bermula dari Ketaatan pada Kehendak Allah. Masuknya Yesus kedalam kehidupan manusia yang merupakan sebuah peristiwa Inkarnasi Allah dimana dalam konteks ini merupakan Inkarnasi Inkulturatif Allah karena ketaatan Maria dan Yosep pada Kehendak Allah.

Kelahiran Yesus

Karena ketaatan Maria pada kehendak Allah; “Aku ini Hamba Tuhan, Terjadilah Padaku Menurut Perkataanmu” (Luk 1:38) Yesus yang adalah sungguh-sungguh Allah hadir di tengah-tengah dunia termasuk kebudayaan serta situasi hidup umat Yahudi (para gembala, lahir di sebuah kandang) dan menerangi dunia.

Yesus memasuki dunia, termasuk situasi dan kehidupan serta kebudayaan umat manusia karena kehendak dan belas kasih Allah. Yesus lahir di tengah para gembala untuk menerangi kita semua dalam hal ini para gembala bahwa Gembala sesungguhnya adalah Yesus sendiri. Konsep dan pemahaman gembala bangsa Yahudi diterangi oleh Yesus dengan pemahaman baru yaitu Gembala bagi kawanan yang baru yaitu umat manusia.

Proses inkulturasi kelahiran Yesus sebagai yang sungguh-sungguh Allah dan permulaan misteri Inkarnasi-Nya (Yoh 1) dalam sebuah persitiwa perjumpaan merupakan buah dari ketaatan pada Kehendak Allah. Dan buah dari ketaatan Maria, Mariapun mengalami sebuah pembaharuan rohani dalam terang kelahiran Yesus yang direfleksikan sebagai sebuah peristiwa inkulturasi iman yaitu Maria menjadi Bunda Allah (Teothokos).

Demikian juga dengan ketaatan Yosep (Mat 1:20) yang tidak hanya “menyelamatkan” Maria namun juga mengantar seluruh umat manusia mengalami secara nyata peristiwa Inkarnasi Inkulturatif Yesus yang sungguh Allah dan sungguh Manusia dan menjadikan Yosep tidak hanya sebagai penjaga (pelindung) Yesus dan Maria namun juga menjadi Gereja Semesta oleh Beato Paus Pius IX.

Fokus utamanya adalah Kehendak Allah yang ditaati dan menjadi pintuk masuk perjumpaan Yesus dengan dunia yang kalau direfleksikan secara lebih mendalam adalah peristiwa Inkarnasi Inkulturatif. Inkarnasi Yesus membawa pembaharuan secara rohani bagi kehidupan, kebudayaan, cara pandang dan situasi hidup umat manusia sebagaimana yang dialami oleh Maria, Yosep dan para gembala.

Karya Publik Yesus

Misi dalam seluruh hidup dan karya publik Yesus adalah Pewartaan Kerajaan Allah. Dalam seluruh karya Publik-Nya, Yesus berkeliling dari satu kota ke kota yang lain, dari satu desa ke desa yang lain untuk mengajar dan melakukan mujikzat sebagai pewartaan Kerajaan Allah (Luk 8:1).

Dalam karya publik-Nya Yesus masuk dalam kehidupan, kebudayaan dan pola pikir, kebiasaan beragama serta situasi kehidupan yang berbeda-beda.

Bahkan dalam pengalaman perjumpaan itu tidak jarang Yesus berjumpa dengan sebagian orang dan kelompok (kaum Farisi, Ahli Taurat, Imam-imam Kepala, Kelompok Saduki) yang menolak pengajaran dan perbuatan-Nya, karena Yesus masuk dengan ketaatan pada Kehendak Allah sedang yang dihadapi adalah mereka yang taat dengan konsep mesianisme (bdk. Luk 9:22; Yoh 6:14-15; 10:18) dan pemikiran kelompok mereka sendiri tentang kebiasaan religius mereka (bdk. Luk 13:10-17; 14:1-6) maupun kebiasaan pergaulan mereka yang bertentangan dengan Kehendak Allah sendiri (bdk. Mat 5:27-32; Luk 10:25-37; Yoh 4:1-42).

Nampak jelas bahwa dalam perjumpaan dengan kebiasaan dan kebudayaan termasuk pemikiran mereka yang menerima pewartaan Yesus (pembaharuan rohani), Yesus tetap menunjukan Ketaatan-Nya pada Kehendak Bapa-Nya. Perjumpaan yang adalah peristiwa inkulturasi sejatinya sudah dialami dan dilakukan oleh Yesus pada zaman-Nya dan peristiwa penolakan pada Yesus karena ketaatan-Nya yang nampak dalam konsistensi pengajaran-Nya sebagaimana yang dialami oleh Gereja dari sekelompok orang yang “menolak” KV II.

Meskipun penolakan dialami oleh Yesus namun Kehendak Allah tetap menjadi pusat ketaatan dan pewartaan Yesus. 

Bahkan penolakan tidak hanya datang dari mereka yang merasa “kebiasaan” mereka dibaharui maupun diterangi oleh Yesus secara rohani, namun juga datang dari para murid-Nya yang setelah mendengarkan pewartaan Yesus tentang Diri-Nya sebagai Roti Hidup mereka mengundurkan diri (Yoh 6:66).

“Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). 

Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari ungkapan para murid ini adalah bahwa untuk mencapai pembaharuan rohani harus taat mengikuti Kehendak Allah sesulit apapun keadaannya. Yesus mempertegas kembali ketaatan pada Kehendak Bapa-Nya dengan mengatakan bahwa perkataan-perkataan yang dikatakan-Nya adalah Roh dan Hidup (Yoh 6:63) yang sejatinya adalah perkataan Bapa-Nya sendiri dan itu sangat jelas ketika Yesus bersabda;

“Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” (Yoh 6:65). Sabda ini menegaskan bahwa hanya Kehendak dan Belas Kasih Bapa yang disertai dengan ketaatan dari pihak kita, kita hanya bisa menjumpai Yesus dan mengalami pembaharuan rohani oleh dan dari-Nya.

Ketaatan pada Kehendak Bapa sekali lagi menjadi pintu masuk bagi Yesus untuk membaharui dunia secara rohani. Kita hanya mampu mengalami perjumpaan dengan Yesus dan dibaharui secara rohani jika kitapun taat pada kehendak Allah dan bukan kehendak sendiri seperti para murid yang mengundurkan diri karena ketidakmampuan mereka untuk mengalami pembaharuan rohani dari Yesus atas pemikiran mereka yang berlawanan dengan Kehendak Allah.

Salib: Hikmat Allah

Dalam refleksi saya, peristiwa Salib menjadi sebuah peristiwa inkulturasi iman menjadi pembaharuan rohani yang tajam dan tegas

Ketaatan Yesus pada Kehendak Bapa yang ditunjukan Yesus selama karya publiknya tetap menjadi pusat pewartaan-Nya dan perjumpaan dengan semua orang hingga pada peristiwa salib. Pada peristiwa salib ini, ada tantangan yang dihadapi oleh Yesus untuk “berkomprompi” pada kehendak Bapa-Nya, namun kembali dikalahkan oleh kekuatan Kehendak Bapa.

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26;39).

Ketaatan Yesus pada Kehendak Bapa mengalahkan keinginan-Nya sendiri hingga berawal dari ketaatan-Nya pada Kehendak Bapa membaharui makna Salib secara rohani. Ketaatan Yesus membawa pembaharuan rohani tentang Salib.

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun bukan orang Yahudi, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah.” (1Kor 23:24).

Ketaatan Yesus pada Kehendak Bapa, pada gilirannya membaharui makna Salib secara rohani yaitu sebagai hikmat dimana menjadi penyerahan Hidup dan Diri Yesus secara total pada Kehendak Allah (Luk 23:46) yang memuncak pada kebangkitan-Nya dimana penyerahan Diri dan Hidup Yesus secara total diterima oleh Bapa.

Ketaatan Yesus pada Kehendak Bapa membawa Inkulturasi Salib secara rohani bahwa salib bukan batu sandungan maupun kebodohan melainkan ketaatan yang adalah hikmat dan kekuatan Allah dimana hanya Kehendak-Nya yang ditaati.

Dari semua refleksi ni kita akhirnya menangkap bahwa penolakan itu terjadi sebagaimana yang dialami Gereja karena:

1. Pemikiran dan posisi yang selama ini sudah nyaman bagi mereka dibongkar dan dibaharui oleh Yesus secara rohani. Dibaharui karena kedangkalan pemahaman dalam beragama dan beriman. 

2. Yesus menunjukan bahwa Ketaatan menjadi jalan pembaharuan secara rohani. Kita tentu ingat Yesus yang menegur Petrus; “Enyahlah iblis. Engkau batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (Mat 16:

3. Isi ajaran dan pewartaan benar, namun karena ketidaktaatan terjadilah penyalahgunaan dan penyimpangan pada pewartaan yang benar. Ketika para murid mengundurkan diri, bukan berarti Yesus gagal mengajar mereka, tapi karena mengikuti kehendak pribadi. Adanya penyimpangan dalam liturgi bukan berarti Gereja gagal dalam mengajar tetapi karena ketidaktaatan oknum pada Kehendak Allah melalui Gereja dan ajaran-ajarannya.

Inkulturasi sejati adalah Inkulturasi yang dilaksanakan dalam KETAATAN pada ajaran Gereja termasuk ajaran-ajaran Konsili Vatikan II sebagaimana KETAATAN Yesus pada Kehendak Bapa yang sasaran utamanya adalah Pembaharuan Rohani.

Refleksi tentang hidup, karya publik dan peristiwa Salib Yesus akhirnya kita menemukan bahwa ajaran Konsili Vatikan II tidak salah bahkan tetap tegas. Hanya dalam Ketaatan Iman pikiran dan hati kita bisa melihat dengan jelas dan terang betapa berharganya Konsili Vatikan II bagi perjalanan Gereja dan sejatinya sudah dilakukan oleh Yesus. Ketidaktaatan membuat kita terus menerus gelisah dan mencari-cari kesalahan seperti yang selalu dilakukan oleh orang Farisi, para Ahli Taurat dan Imam-imam Kepala.


Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ketaatan Membuahkan Inkulturasi Sejati

Trending Now

Iklan