Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Natal: Jual Beli Cinta, Kesedihan dan Harapan

societasnews.id
Kamis, 09 Desember 2021 | Desember 09, 2021 WIB Last Updated 2021-12-09T23:38:01Z
Natal: Jual Beli Cinta, Kesedihan dan Harapan
Ilustrasi: google


Di jantung pemahaman Kristiani, Natal adalah pesan yang disampaikan melalui hadiah utama dari Allah. Natal pertama itu ketika Tuhan ingin menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Ia menggunakan perantara seorang bayi yang lahir dari seorang gadis Yahudi di kota Daud.  

Dengan demikian, ruang yang tak terseberangi antara Tuhan dan ciptaan-Nya dijembatani oleh karunia seorang bayi yang adalah Tuhan dan manusia. Dan kenangan akan Natal pertama itu selalu dirayakan tiap tahun di bulan Desember oleh umat Kristiani. 

Tidak salah bila Desember dan Natal itu exciting dan memorable. Membungkus aneka cerita, gedung-gedung penuh dandanan cantik, laki dan perempuan berburu baju bagus biar tampil modis,  karangan bunga dan kotak yang dibungkus dengan indah juga menghiasi rumah-rumah. 

Namun, Natal bukan hanya cerita tentang keceriaan atau sukacita yang meriah, lampu terang warna-warni dan kemewahan makanan. Juga bukan tentang mereka yang bisa membeli hadiah terbesar atau tentang rumah yang paling indah dekorasinya tetapi kesedihan dan rasa sakit juga termasuk dalam cerita Natal. 

Bagaimana kita mendamaikan emosi ini? Bagaimana perasaan kita tentang Natal? Tidak ada jawaban tunggal atas hal ini. Kebanyakan dari kita, jawabannya akan tergantung pada apa yang terungkap ketika kaca pembesar yang meriah ditempatkan di atas hubungan kita dengan keluarga, teman dan Tuhan sendiri. 

Kabar gembira tentang penghiburan dan sukacita menyertai prospek Natal yang dihabiskan bersama orang-orang yang dengannya kita berbagi kasih dan hidangan persaudaraan yang tidak rumit. Tapi retakan dan ketegangan  juga pengalaman pahit tidak serta-merta kita hindari sepanjang tahun pandemi. 

Jika kita membuka mata terhadap dunia, kita tidak hanya melihat hadiah dan mata yang berbinar, tetapi juga air mata dan sakit hati. Kita juga melihat tubuh dan darah yang hancur. Melihat para tunawisma dan anak-anak mati kelaparan dan wabah covid. Melihat  keserakahan. Dan tak ketinggalan tentu saja melihat anggota keluarga yang dibawa ke pemakaman. 

Tahun ini, banyak orang mungkin meneteskan air mata saat menyanyikan lagu-lagu Natal, tetapi kita harus tetap bernyanyi. Di tengah tragedi dan kehancuran ini, masih ada alasan bagi kita untuk menyanyikan kegembiraan bagi dunia dan perdamaian. Itulah benih harapan untuk masa depan kita dan ajakan bertindak untuk masa kini. 

Mungkin kita bertanya, di mana letak kebahagiaan bagi mereka yang menderita, patah hati, atau berduka? Jawabannya adalah bahwa sukacita Natal terletak tepat di tengah-tengah semua rasa sakit dan kesengsaraan ini. 

Sebuah kebenaran bahwa kita merayakan Natal untuk mengingat bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan dunia. Allah mengutus Anak-Nya untuk menyembuhkan mereka yang terluka. Ini adalah janji untuk penyembuhan dan kedamaian. Natal adalah untuk mereka yang terluka. 

Kegembiraan Natal juga terletak pada cinta untuk orang lain, harapan untuk dunia yang lebih baik, dan kedamaian untuk semua bahkan selama masa kehancuran. Natal itu bergerak memilih pengampunan daripada balas dendam. Natal bekerja menuju dunia yang lebih baik. Natal mengajak kita berdoa untuk perdamaian di bumi. Sebuah pembelajaran bahwa harapan dan cinta lebih besar daripada keputusasaan. 

Natal juga berbagi apa yang kita miliki dengan mereka yang memiliki lebih sedikit. Natal membuka kesempatan untuk menjangkau orang lain yang terluka. Natal adalah momen mengetahui bahwa seseorang peduli padamu.

Caloocan Manila

Garsa Bambang, MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Natal: Jual Beli Cinta, Kesedihan dan Harapan

Trending Now

Iklan