Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Natal Kami Semakin Bermakna Dengan Laranganmu

societasnews.id
Selasa, 14 Desember 2021 | Desember 14, 2021 WIB Last Updated 2021-12-15T06:43:23Z
Natal Kami Semakin Bermakna Dengan Laranganmu
Foto istimewah


Yesus saja tidak mendapatkan tempat dihati oleh orang-orang “sekampung-Nya” sekalipun tempat penginapan, maka Ia harus lahir di kandang Betlehem (bdk. 2:7). Kandang yang oleh mata manusia adalah kehinaan justru menjadi kemuliaan dan sukacita bagi jagad semesta. Maka larangan apapun pada ucapan selamat dan penggunaan atribut Natal pantas kita haturkan terimakasih karena larangan itu adalah sebuah jalan sempit bagi kita menuju Betlehem.

Baca juga: Kades di Brebes Ditahan Gegara Tilap Dana Desa Tahun 2019, Jumlahnya Sebesar ini

Setiap tahun Natal kita selalu berhadapan dengan larangan. Walau sejatinya Natal kita tidak berhubungan dengan ucapan selamat maupun atribut natal. Ucapan selamat dan atribut natal hanyalah ungkapan syukur dan sukacita bersama bahkan menegaskan kemanusiaan dan ke-Indonesiaan kita sebagai jelmaan tertinggi dari kehidupan beragama dan beriman. Ucapan selamat hanyalah manifestasi iman dari ke-Nusantaraan kita yang selalu kita gaungkan yaitu “gotong royong” dan “Bhineka Tunggal Ika” dan tidak ada hubungan dengan perayaan Natal.

Oleh karena itu, menurut hemat saya larangan yang kita hadapi setiap kali merayakan Hari Raya Natal setiap tahun harus kita apresiasi dengan ucapan terimakasih karena membuat kita umat Kristen Katolik semakin memaknai perayaan Natal dengan menghidupi peristiwa kelahiran Yesus di kandang “hina” di Betlehem sebagai jalan untuk membawa damai dan sukacita bagi bangsa Indonesia. Inilah sejatinya Natal.

Baca juga: Penyegaran Rohani Umat: Memperdalam Tata Perayaan Ekaristi

Natal adalah berjalan bersama Yesus, Maria dan Yosep dalam “penolakan” menuju Betlehem dan mengubah penolakan menjadi cinta, sukacita dan damai bagi semua. Natal adalah awal perjalanan salib yang menguatkan kita untuk menyuarakan kekuatan; “Jangan takut” (Luk 2:10) dan bukan ketakutan. Natal adalah berjalan bersama Yesus, Maria dan Yosep untuk hidup dan tinggal di tenga-tengah perbedaan dan bukan mendirikan tembok pemisah kemanusiaan dengan agama. Natal hanya sebuah nama, karena Natal sejatinya adalah Cinta, Damai, Kesatuan dan Keselamatan yang membebaskan.

Baca juga: Kemunculan Metaverse dan Ketiadaan Jaringan Internet di Daerah Terpencil

Larangan yang selalu kita dengar setiap tahun menjelang perayaan Hari Raya Natal dan yang beberapa hari ini kembali diberitakan adalah jalan bagi kita yang merayakannya untuk memperlihatkan Natal yang sesungguhnya bahwa Natal adalah Solidaritas Allah yang menjadi sungguh-sungguh Manusia untuk tinggal dan berada bersama kita. Natal adalah Allah Yang menjadi Manusia memanusiakan manusia dan bukan membatasi ruang gerak manusia (bdk. Yoh 1).

Natal kita bukan soal salaman, pun pula bukan sekedar atribut. Tapi Natal kita adalah Cinta Allah yang menjadikan Betlehem rumah kita bersama. Larangan itu hanyalah sebuah ketakutan pada agama dan bukan kemerdekaan iman sebagai orang beragama. Di Betlehem itu, kita meyakinkan kepada mereka para perumus larangan bahwa iman para gembala justru melebih iman orang-orang pintar, dimana kita yang adalah para gembala sederhana menjadikan Indonesia sebagai Betlehem Cinta, Kedamaian dan Persatuan dalam keberagaman (bdk. Luk 2:15).

Larangan mereka membuat Natal kita semakin bermakna, lantaran Natal kita tak butuh ucapan maupun atribut namun sebaliknya diri dan hidup kita yang penuh Cinta, Kedamaian, Persatuan dan Sukacita adalah Natal yang sesungguhnya dimana meneguhkan yang lain untuk ikut melihat dan menikmati Sukacita Cinta, Kedamaian dan Persatuan di Betlehem Indonesia.

Manila: 15-Desember 2021

Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Natal Kami Semakin Bermakna Dengan Laranganmu

Trending Now

Iklan