Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Prospek Natal: Berpartisipasi Dalam Fungsi "Keibuan Gereja"

societasnews.id
Senin, 13 Desember 2021 | Desember 13, 2021 WIB Last Updated 2021-12-14T01:53:07Z
Prospek Natal: Berpartisipasi Dalam Fungsi "Keibuan Gereja"
Ilustrasi: google


Semuanya dimulai dengan pertanyaan yang Nikodemus ajukan kepada Yesus: “Bagaimana mungkin seseorang masuk lagi ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan?” Ini adalah pertanyaan yang sangat bagus, terbaik yang diajukan.  

Nikodemus bukanlah orang yang gagal memahami “kelahiran dari atas”, melainkan ia memahami dengan sempurna bahwa seseorang tidak dapat memahami “kelahiran dari atas” tanpa menghubungkannya dengan “kelahiran dari bawah”. 

Baca juga: Penyegaran Rohani Umat: Memperdalam Tata Perayaan Ekaristi

Nikodemus seorang Yahudi yang disebut dalam Perjanjian Baru terutama Injil Yohanes bab 3 dicatat bahwa ia datang pada waktu malam kepada Yesus untuk berbicara secara pribadi. Inti percakapan Yesus dan Nikodemus adalah mengenai kelahiran kembali dan kehidupan kekal. 

Dengan menggambarkan pentingnya "dilahirkan dari rahim ibunya" (melalui jalan "dari bawah") setidaknya Nikodemus membantu kita juga untuk memahami dan menguraikan apa artinya "dilahirkan kembali oleh air dan roh" ( melalui jalur "dari atas").  

Tentang tanggapan Yesus atas Nikodemus bukanlah suatu pertentangan—“apa yang lahir dari daging adalah daging dan apa yang dilahirkan dari roh adalah roh” (Yohanes 3:6)—melainkan memikirkannya sebagai sebuah analogi: sebagaimana yang dilahirkan dari daging adalah daging, demikian pula yang dilahirkan dari roh adalah roh.  

Baca juga: Tolak Laporan Korban Perampokan, Polisi Dibina di Polres Jatim

Sederhananya jika ada “sukacita” dalam kelahiran, itu bukan hanya karena Kristus lahir di dunia (di Betlehem melalui Perawan Maria), tetapi juga dan di atas segalanya karena Ia “melahirkan” ke dunia, Firman yang menjadi dagingnya mengandung segalanya. 

Terhadap hal ini, Filsuf Hannah Arendt seorang Yahudi dalam The Human Condition menyebutnya “keajaiban yang menyelamatkan dunia. Bahwa fakta kelahiran seorang anak menghasilkan dunia baru dengan memasuki dunia. Inilah artinya ketika Injil mengumumkan Kabar Baik ini: “seorang anak telah lahir bagi kita.” 

Kelahiran dengan demikian hendak menggarisbawahi bahwa Sabda yang menjadi daging, "melahirkan dunia" pada hari Natal melalui Perawan Maria hendak tinggal dan memungkinkan kita melahirkan Dia kembali dalam hidup kita. “Apa gunanya jika Sabda yang menjadi daging lahir satu kali di antara manusia di Betlehem,” demikian tanya Meister Eckhart, jika bukan untuk lahir  ribuan kali, dalam diri kita masing-masing? 

Selanjutnya misi orang-orang Kristiani ini tidak hanya melahirkan Kristus dalam diri kita sendiri, tetapi juga bekerja untuk kelahiran Kristus dalam jiwa orang lain, sebagaimana Paulus dan Timotius yang mengasuh orang-orang Kristen Tesalonika, "sama seperti ibu mengasuh dan merawat anak-anaknya. ” (1 Tes 2:7).  

Pada akhirnya, seperti yang pernah disampaikan teolog Roch A. Kereszty, “Maria mengandung Yesus pertama-tama dengan iman dan baru kemudian di dalam rahimnya.” Kesuburan rohani Maria yang meluas untuk merangkul seluruh Gereja," menunjukkan bahwa identifikasinya dengan Gereja melampaui sekadar metafora.  

Baca juga: Surat Terbuka Pater Tuan Kopong Kepada Presiden, Bapak Ir. Joko Widodo

Maria pantas disebut teladan sempurna Gereja. Maria mengasihi anak-anak rohaninya dengan kasih yang sama seperti yang ia miliki untuk Putra ilahinya, yang lahir di dalam hati setiap orang Kristen. Karena itu, jika Gereja adalah ibu, setiap orang Kristen juga harus menjadi ibu dalam arti melahirkan dan membesarkan Kristus dalam diri orang lain, dengan demikian berpartisipasi dalam fungsi keibuan Gereja.

Quezon City

Garsa Bambang, MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Prospek Natal: Berpartisipasi Dalam Fungsi "Keibuan Gereja"

Trending Now

Iklan