Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Rabu Merah: Tanpa Ketakutan

societasnews.id
Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T04:01:48Z
Makna hari Rabu dengan warna merah
foto istimewah


“Tidak Ada Rahmat Sebagai Orang Kristen Katolik Jika Tidak Ada Pengorbanan”

Setiap hari Rabu dalam Minggu terakhir bulan November diperingati sebagai hari Rabu Merah yang biasa dikenal dengan sebutan “Red Wednesday.” Pada hari Rabu ini baik umat maupun para imam diajak untuk mengenakan minimal baju dan busana liturgi (kasula dan stola) berwarna merah.

Untuk di Indonesia saya kurang tahu, namun di Filipina sudah menjadi tradisi sejak tahun 2017 ketika Red Wednesday diorganize di United Kingdom dalam kerjasama dengan The Aid To The Church In Need (ACN: Bantuan kepada Gereja yang membutuhkan) dan Karitas Pontifikal (Kepausan) untuk mendoakan seluruh umat Kristen baik Katolik maupun denom lainnya yang mengalami persekusi, intoleran, diskriminasi dan kekerasan.

Rabu merah atau Red Wednesday merupakan ajakan sekaligus peneguhan bagi seluruh pengikut Kristus terutama umat Kristen Katolik untuk “Membela Iman dan Kebebasan.” CAN didirikan pada tahun 1947 sebagai sebuah karya kerasulan atau pelayanan Gereja Katolik yang mendedikasikan pelayanan untuk seluruh umat Kristen seluruh dunia, dimanapun yang mengalami persekusi dan yang menderita kebutuhan materi.

Red Wednesday sejatinya mengajak seluruh umat Kristen Katolik untuk menyadari bahwa menghayati iman sebagai seorang Kristen Katolik adalah tidak mudah. Namun dalam setiap kesulitan yang dihadapi bahkan persekusi sekalipun umat Katolik diajak untuk tetap teguh pada iman seraya bertekun dalam doa untuk membela iman dan kebebasan.

“Jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu…, kamu akan dibenci karena nama-Ku tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21:14. 17-19)

Red Wednesday dalam Gereja Katolik dikenal sebagai Rabu para martir. Merah merupakan simbol darah dan martir menurut liturgi Gereja Katolik. Maka pada Red Wednesday seluruh umat Kristen teristimewa umat Kristen Katolik diajak untuk mendoakan para martir, umat dan Gereja dimanapun yang mengalami persekusi seraya menimbah semangat atau spiritualitas para martir agar tetap dikuatkan dalam iman dan diteguhkan dalam harapan untuk terus membela iman dan kebebasan.

Dari perayaan Red Wednesday atau Rabu Merah ini sejatinya mengajak kita semua untuk menyadari satu hal sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang teolog “kontroversi”;

“Tidak akan ada kedamaian diantara bangsa-bangsa jika tidak ada kedamaian diantara agama-agama.” “Tidak ada rahmat sebagai orang Kristen Katolik jika tidak ada pengorbanan.”

Jika Rabu Merah ini juga menjadi gerakan iman bersama seluruh umat Kristen Katolik Indonesia, maka rahmat kedamaian akan tercipta di rahim pertiwi Indonesia.


Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rabu Merah: Tanpa Ketakutan

Trending Now

Iklan