-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Siapkah Menerima Yang Kecil? (Mrk 12:38-44)

Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T07:25:13Z
Siapkah Menerima Yang Kecil? (Mrk 12:38-44)


Mengajar orang lain untuk memberi dengan tulus tanpa mengharapkan pujian dan tepukan tangan adalah hal mudah dan rasanya semua orang pasti akan mengatakan “ya, kami memberi dengan tulus, tanpa mengharapkan pujian karena hanya untuk kemuliaan Tuhan dan sesama”.

Namun menjadi pertanyaan reflektif bagi kita semua; 

“Siap dan bersediakah kita dengan tulus dan sukarela menerima anak-anak Kristen Katolik yang kurang mampu namun memiliki keinginan yang sangat kuat untuk belajar di sekolah swasta Kristen Katolik?”

“Siap dan bersediakan kita menerima dengan tulus sumbangan dari umat yang memberi dengan tulus dari kekurangan mereka meski tidak sesuai dengan standard yang ditentukan?”

Kita harus mengakui dengan jujur bahwa masih banyak dari kita justru yang tidak tulus untuk menerima dan menampung mereka yang dengan tulus dan keyakinan untuk memberi dengan menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Kristen Katolik hanya karena stadard pembiyaan yang tidak seimbang dengan kemampuan sebagian keluarga Kristen Katolik.

Seringkali karena ketulusan memberi yang tidak sesuai dengan keterbukaan untuk menerima maka, sekolah negeri menjadi pelabuhan akhir meniti masa depan. Dapat dikatan bahwa “sekolah negeri menjadi berkat” bagi sebagian keluarga-keluarga Kristen Katolik yang tidak mampu karena ketidaktulusan kita sendiri untuk menerima mereka.

Di kota-kota besar misalnya, maaf kalau salah bisa kita lihat berapa presentase anak-anak Kristen Katolik yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan Kristen Katolik. Apalagi di tempat lain seperti di NTT, sekolah-sekolah negeri menjadi langganan bagi anak-anak Kristen Katolik yang keluarganya kurang mampu menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga-lembaga pendidikan Kristen Katolik.

Betul bahwa sarana pendidikan dibutuhkan dan membutuhkan biaya yang tidak kecil juga. Namun ketika ketulusan memberi tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan pujian hanya berhenti pada sebuah ajaran kesalehan tanpa diimbangi dengan ketulusan menerima berapapun yang mampu mereka berikan maka yang nampak adalah ketulusan hanya berlaku bagi yang bisa memberi lebih.

Demikian juga yang seringkali kita alami di paroki-paroki tertentu. Ketika ada umat yang memberi tanpa mengharapkan pujian, memberi dengan tulus sebagai persembahan terindah kepada Tuhan dan sesama namun tidak sesuai dengan standard yang sudah ditentukan maka yang muncul bukan ketulusan menerima namun bahasa-bahasa cibiran yang semakin mengucilkan dan menjauhkan orang itu dari Gereja.

“Kita selalu mengajarkan ketulusan dalam memberi berapapun itu seperti yang diteladankan oleh seorang janda tua dalam Kitab Suci namun satu hal yang kita lupakan adalah ketulusan dan keterbukaan untuk menerimanya.”

“Hanya yang tahu bersyukur dalam keadaan apapun, akan selalu menerima dengan tulus apapun yang diberikan meski tidak sesuai dengan harapan.” Itu adalah pemberian sesungguhnya!


Pater Tuan Kopong MSF.

×
Berita Terbaru Update