Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Solidaritas: Belum Menetas

societasnews.id
Minggu, 19 Desember 2021 | Desember 19, 2021 WIB Last Updated 2021-12-29T19:02:51Z
Solidaritas: Belum Menetas
Ilustrasi: google


Sembari mendengar alunan lagu karangan om Ebit Gade, “Perjalanan ini” dengan secangkir kopi pait khas Manggarai Timur, puisi yang berjudul “si miskin vs si kaya” dari seorang penyair bernama Ekhing Patir kembali terngiang dalam pikiran saya. Puisi itu menceritakan relasi antara si kaya dan si miskin dalam sebuah kota. Singkatnya dia mencoba masuk ke dalam realitas pertarungan antara si kaya dan si miskin. Yang kaya selalu memamerkan kekayaannya, sedangkan si miskin hanya menatapnya dengan penuh emosi dan penuh harap. 

Baca juga: Wanita Terpilih

Puisi itu menyadarkan saya akan realitas yang terjadi saat ini, adanya kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Si kaya selalu sibuk dengan pekerjaannya, sibuk mengejar karir. Hari-harinya disibukan dengan mengumpulkan banyak uang. Hal ini dilakukan agar hidup itu eksis, dengan membeli berbagai macam barang model terbaru, lagi bermerek. Sebenarnya semuanya itu tidak ia butuhkan. Ia tejebak di dalam ilusi konsumtivisme, yaitu membeli barang demi barang itu sendiri, tanpa tujuan di luarnya. 

Orang yang demikian tidak peduli dengan orang lain yang sangat membutuhkannya. Dia memiliki mata tapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar jeritan seorang pengemis meminta sedekah. Mobil mewah lewat di tengah pemukiman kumuh, jorok. Mereka berjas di diantara orang yang bertelanjang, bersepatu di antara orang yang tak berkasut. Mereka berada di “rumah” yang satu dan sama, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan keberadaan mereka. Seolah-seolah mereka berada jauh dari yang lain.

Baca juga: Bunda Maria Sebagai Teladan Dalam Berbagi Sukacita

Realitas ini merupakan gejala hilangnya solidaritas. Bahkan kata solidaritas disingkirkan, dan hanya menjadi sebuah kata yang tidak bermakna. Seruan untuk bersolider tidak lagi didengarkan. Setiap orang mencari aman dan kesenangan hidupnya. Tidak ada kepedulian terhadap mereka yang kalah dan tertindas. Krisis solidaritas merupakan tanda pecahnya sebuah masyarakat dan terjadinya pembentukan kelas dalam masyarakat. Maka timbullah keresahan dan mulailah babak baru yaitu terjadinya perang antara si kaya dan si miskin.

Melihat hal ini saya pun teringat akan apa yang dikatakan oleh paman Epukurus, "hindari rasa sakit, kejarlah kenikmatan". Epukurus menekankan pencarian kepuasan dengan cara menghilangkan rasa sakit dan terpenuhnya semua kebutuhan hidup. Pernyataan ini selaras dengan gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini yang hedonis. 

Hal yang sama juga dikatakan oleh Jean Baudrillad, bahwa saat ini kita sedang mengkonsumsi gaya hidup ekonomi libido. Gaya hidup ini ditandai dengan pengejaran akan kenikmatan dengan cara melampaui apa yang diperlukan. Orang sibuk membeli suatu barang yang lagi nge-trend. Maka tidak heran barang tidak lagi dilihat dari sisi nilai gunanya tapi dilihat dari nilai simboliknya. Mereka menginginkan barang-barang bermerek dan bergengsi yaitu barang-barang yang selalu mengikuti mode mutakhir. Maka benarlah afirmasi Baudrillad, "saat ini kita hidup dalam jangka waktu objektif". Artinya, objek-objek itu kita alami dalam keseluruhan munculnya, berlangsungnya, hingga hilang lenyap digantikan dengan objek yang baru. Jika tidak trend lagi maka dibuang dan diganti dengan yang baru. 

Baca juga: Kekhusukan Misa Adalah Dari Hati Yang Hening

Di sisi lain seorang pengemis hanya bisa menatap tanpa kata, menjulurkan tangan meminta dengan penuh harap. Pakayannya compang-camping. Ia berjalan di antara mobil-mobil mewah. Ia mencari makanan sisah diemperan rumah si kaya. Menyedihkan, bukan? 

Relaitas ini menghantar saya untuk merenungkan kembali makna kata solidaritas. Seorang pemikir Jerman Peter Schmitz mengartikan solidaritas sebagai dasar dari persaan kebersamaan. Sederhanannya kata solidaritas ini diartikan sebagai adanya rasa tanggungjawab atas kehidupan orang lain. Atau juga diartikan adanya kesetiakawanan dan kekompakan. Solidaritas juga erat kaitannya dengan empati. Dalam arti ini empati diartikan sebagai kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan. Suatu kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. 

Melihat pengertian ini dan setelah disandingkan dengan realitas manusia Indonesia saat ini, saya mengambil kesimpulan bahwa solidaritas itu belum menetas. Artinya, konsep solidaritas itu belum sepenuhnya diaplikasikan dalam kehidupan konkret. Kata solidaritas itu masih berada dalam “cangkang” pemikiran manusia.


Oleh: Sirilus Yekrianus

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Solidaritas: Belum Menetas

Trending Now

Iklan