Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Spiritualitas Salib: Jika Tak Mengimani, Mencintai Sudah Cukup!

societasnews.id
Jumat, 10 Desember 2021 | Desember 10, 2021 WIB Last Updated 2021-12-11T01:23:49Z
Spiritualitas Salib
Foto istimewah


“Salib adalah bahasa universal tentang Kasih, Perdamaian dan Kemenangan Jiwa.”

Saya masih terus merenung dan bertanya mengapa kesombongan beragama masih dan selalu dipertontonkan oleh kaum beragama? Agama seakan menjadi senjata yang paling ampuh untuk membenarkan kebencian. Agama hanya menjadi perisai melegalkan sumpah serapah dari mulut oknum tokoh agama “habiskan dan bakar” yang disertai sorak sorai para pengikutnya.

Agama yang sejatinya adalah tempat dimana orang menemukan dan mengalami kedekatan bathin dengan Allah namun justru menjadi panggung yang mempertontonkan wajah Allah yang penuh kekerasan, gosip, isu, kebencian dan kesombongan serta penghakiman.

Dalam situasi seperti ini kita butuh sebuah spiritualitas dalam kehidupan beragama. Dan spiritualitas itu tidak lain adalah spiritualitas salib. Salib memang menjadi bahasa cibiran bagi sebagian kecil orang beragama yang tak mengimaninya dengan mengatakan di salib itu ada jin ataupun bentuk penginaan lain seperti juga yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai batu sandungan dan siksaan atau seperti orang Yunani sebagai sebuah kebodohan (1Kor 1:23).

Kalau direnungkan lebih jauh maka salib adalah segala tutur kata dan perilaku kita yang menciptakan kegaduhan, perpecahaan dan kekacauan yang pada gilirannya melahirkan mata rantai persoalan di negeri tercinta kita yang mana secara sadar atau tidak agama seakan hadir menjadi “penindas” bagi yang lain. Salib adalah ajakan untuk menyalibkan kesombongan yang melahirkan kerendahan hati. Memikul salib berarti ajakan untuk menyangkal (memakukan) segala kelemahan serta keburukan pribadi yang merusak kebersamaan, persatuan dan menguburkan hikmat dan kekuatan Allah yang diimani (bdk. Luk 9:23).

Salib adalah panggilan universal untuk menjadi pemenang atas segala kelemahan, kekurangan dan keburukan kita pribadi sebagai orang beragama. Salib adalah sapaan universal untuk mengubah bahasa kebencian menjadi bahasa Kasih, bahasa dendam menjadi bahasa Pengampunan, bahasa kesombongan menjadi bahasa Kerendahan Hati dan Ketaatan serta mengubah kekacauan menjadi bahasa Perdamaian dan Persatuan. Dengan kata lain salib sejatinya adalah bahasa “jihad, revolusi” atas perilaku beragama kita menuju persatuan, perdamaian dan sukacita bersama.

Salib memang menjadi simbol iman yang kuat dalam agama Kristen Katolik. Maka untuk yang bukan beragama Kristen Katolik tidak akan pernah dan mau untuk mengimaninya. Kendati tidak mengimani, adalah baik cukup dengan mencintainya-sebagaimana saya mencintai mereka yang berbeda tanpa harus mengimani-yang dari cinta itu menyadarkan kita bahwa salib bangsa hari ini adalah salib kita bersama, salib yang lahir dari kehidupan beragama tanpa spiritualitas namun fanatisme.

Dari salib yang kami imani, paling tidak mengingatkan kami umat Kristen Katolik bahwa salib mengajarkan Kasih sebagai hukum tertinggi bagi semua tanpa memandang perbedaan yang mengalahkan keegoisan, Pengampunan meski dibenci, Kerendahan hati meski ditindas, Perdamaian meski dianiya dan Kesetiaan meski disakiti.

Agama hanya menjadi agama yang berwajah ramah adalah yang memiliki spiritualitas. Dan spiritualitas salib menjadi bahasa universal tentang Kasih, Pengampunan, Perdamaian dan Kemenangan Jiwa. Maka kalaupun tidak mengimaini, mencintai saja itu sudah cukup.

Pater Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Spiritualitas Salib: Jika Tak Mengimani, Mencintai Sudah Cukup!

Trending Now

Iklan