Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Untuk Mereka Yang “Merasa” Paling Tahu Ajaran Agama Lain (Katolik)

societasnews.id
Selasa, 04 Januari 2022 | Januari 04, 2022 WIB Last Updated 2022-01-05T08:16:40Z
Untuk Mereka Yang “Merasa” Paling Tahu Ajaran Agama Lain (Katolik)

Photo: regional.kompas.com; 03/07/2019



Belajar Ke-Katolikan: Islam Yang Saya Yakini dan Pahami Makin Mantap! (Dewi Praswida)


Kita tentu masih ingat pertemuan dan saling berjabatan tangan antara saudari kita Dewi Praswida dengan Paus Fransiskus pada Rabu, 26 Juni 2019 silam di lapangan Santo Petrus-Vatikan. Pertemuan yang mengesankan tentunya karena berawal dari sebuah perbedaan prinsip namun memiliki visi dan misi yang sama: dialog dan toleransi.

Baca juga: Pater Tuan Kopong MSF: Tidak Mudah Menjadi Seorang Ibu

Pertemuan Muslimah berjilbab di lapangan Santo Petrus dengan Paus Fransiskus, seketika menjadi viral karena dari sekian banyak peziarah (umat Katolik) yang memadati lapangan Santo Petrus berdiri seorang perempuan berjilbab yang sedang menanti kedatangan Paus Fransiskus dan menyalami dengan senyum sumringah baik dari Dewi maupun Paus Fransiskus seraya memperkenalkan diri dan memohon doa Paus Fransiskus untuk perdamaian dan toleransi di bumi pertiwi Indonesia.

Dalam wawancara dengan Habib Husein melalui canal youtube Jedah Nulis pada 25 Desember 2021 yang lalu, Peserta Pertemuan Pre Sinodal Orang Muda Lintas Agama yang diadakan oleh Vatikan pada 2018 dan juga merupakan anggota Jaringan Gusdurian Semarang menegaskan bahwa semakian ia memperdalam pengetahuan tentang ke-Kristenan dalam hal ini Katolik justru membuatnya semakin tertarik untuk mempelajari ke-Kristenan dan secara khusus Katolik dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan membuatnya semakin ber-Islam namun tetap terbuka dan menghargai agama lain secara khusus agama Kristen Katolik.

Baca juga: 2022: Setahun untuk Diingat, Setahun Untuk Dijalani

Selama 10 hari mengikuti pertemuan Pre Sinodal, setia peserta dan perwakilan masing-masing agama selain Katolik diminta untuk memberikan masukan terkait apa yang harus dibenahi dari umat Kristen Katolik. Dewi merasa sangat dihargai karena sebagai seorang muda Islam dimintai masukannya untuk pembenahan pendampingan dan pembinaan bagi orang muda pada khususnya dan Gereja pada umumnya.

Dewipun memberikan masukan yang menurut hemat saya masukan yang sangat brilian yaitu;

“Umat Kristen Katolik harus berani belajar mawas diri dan atau introspeksi diri. Gereja Katolik dikenal dengan “sistem” hirarkinya yang kuat. Namun karena pengalaman Dewi yang menjumpai beberapa umat Kristen Katolik yang masih fanatik, maka perlu pembenahan dan edukasi sehingga visi dan misi Gereja Katolik yang damai, penuh kasih sebagaimana yang diajarkan Yesus Kristus rusak hanya karena oknum satu atau dua orang.”

Baca juga: Natal, Betlehem, Keutuhan Ciptaan

Lahir dari keluarga Islam, saat pertama kali ke Vatikan dan ketika mengambil kuliah Nostra Aetate di Vatikan, keluarganya mengijinkan karena selama belajar untuk hal-hal positif keluarga mendukung sehingga tidak pernah ada pikiran dikristenkan atau dikatolikan.  

Ketika mendapat bea siswa untuk belajar Nostra Aetate di Vatikan selama setahun, satu keinginan Dewi yaitu belajar dan mendalami ke-Kristenan sedalam-dalamnya. Termasuk mendalami dogma Trinitas yang pada saat awal mau mendalami dogma Trinitas dilarang oleh dosen pengajar yang adalah seorang imam karena takut dikira mau masuk Katolik, namun karena kemauan keras Dewi akhirnya diijinkan. Satu tujuan Dewi;

“Bisa memahami penganut agama lain dalam hal ini Katolik dengan seluruh ajarannya maka belajar langsung pada penganutnya (Katolik) bukan berdasarkan tafsiran pribadi atau ajaran dari agama sendiri.” 

Dewi menegaskan dengan mendalami ke-Kristenan dia semakin ber-Islam karena sebagaimana ajaran Katolik adalah kedamaian dan cinta maka itu juga semakin menguatkan saya untuk menegaskan visi dan misi Islam yang adalah Rahmatan Lil’Alami; menjadi rahmat bagi semesta alam. Selama cara ber-Islam saya tidak merugikan orang, merusak dan menggangu itu adalah Islam yang Rahmatan Lil’Alamin. Daripada mengaku paling Islam namun jauh dari visi dan misi yang dibawa Nabi Muhammad.”

Baca juga: Kamu Dicintai oleh Tuhan, Sebab Kamu adalah Umat pilihan-Nya

Mendalami ke-Kristenan (Katolik) Jilbab Dewi tetap kokoh, tidak dilepas. Bahkan selama mengikuti kuliah dan ketika bertemu dengan Paus Fransiskus, Dewi tetap mengenakan Jilbab. Maka kalau ada yang suka mengurusi ajaran agama lain namun tidak pernah mendalami ajaran agama tersebut dia sebenarnya tidak kokoh kuat dengan agamanya sendiri bahkan selalu melihat kegiatan agama lain dalam hal ini Katolik sebagai kristenisasi. Dewi menjadi simbol dan contoh yang meruntuhkan konsep kristenisasi dari segelintir orang terhadap Gereja Katolik. 

Dewi sendiri secara pribadi mengatakan bahwa secara pribadi Ia malu karena Gereja Katolik justru memiliki lembaga pendidikan Islam yang cukup banyak di Vatikan. Bagaimana memandang Islam dari sudut pandang Katolik. Bahkan sebelum belajar Islamologi, para pastor yang hendak belajar Islamologi harus lulus bahasa Arab. Dari sini menyadarkan Dewi bahwa yang tidak mengimani Islam saja benar-benar belajar dari akarnya agar tidak tersesat.

Dewi menjelaskan misalnya untuk belajar soal Yesus tidak hanya dari Al-quran, tapi belajar juga dari sudut pandang agama Kristen Katolik. Ajaran Al-quran tentang Yesus untuk ke-imanan saya sebagai seorang Islam, namun untuk toleransi saya harus belajar dari yang lain dalam hal ini Katolik. Bagi Dewi; agama itu ada kisah sejarah dan pengetahuan yang bisa dikaji maka untuk memahami agama lain perlu belajar dan mengkajinya dari perspektif agama lain,  bukan hanya dari agama yang kita anut. Maka seperti lahirnya dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Gereja juga melibatkan masukan dari disiplin ilmu pengetahuan lain, jelas Dewi.

Tidak hanya berhenti sampai disitu. Untuk membuktikan kotbah para pastor, Dewipun pergi ke gereja untuk mendengarkan kotbah para imam. Dewi menegaskan bahwa dalam kotbah para imam selalu diajarkan Cinta Kasih. Dari kotbah para imam yang melalu menekankan ajaran cinta kasih menyadarkan Dewi untuk semakin menanamkan dalam dirinya yang namanya Islam Rahmatan Lil’Alamin sehingga Ia meskipun belajar ke-Kristenan (Katolik) di Vatikan semakin mantap dengan Islam yang dipahami dan diyakini.

Terimakasih banyak Sahabat Dewi, telah menginspirasi saya untuk bisa memahami agama lain bukan semata-mata dari kaca mata agama yang saya anut melainkan mendalami ajaran agama tersebut dengan sungguh-sungguh dan benar.


Manila: Januari 2022

Tuan Kopong MSF

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Untuk Mereka Yang “Merasa” Paling Tahu Ajaran Agama Lain (Katolik)

Trending Now

Iklan