News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pelajaran Abadi dari Gereja yang Militan - Homo Viator, Homo Superbus dan Anthropos

 

Pelajaran Abadi dari Gereja yang Militan  - Homo Viator, Homo Superbus dan Anthropos
Pelajaran Abadi dari Gereja yang Militan  - Homo Viator, Homo Superbus dan Anthropos 




Pelajaran Abadi dari Gereja yang Militan

- Homo Viator, Homo Superbus dan Anthropos - Asal diketahui pengetahuan sejarah menggambarkan bahwa Gereja itu sendiri sangat militan menghadapi masa-masa gelap. Gereja berperang di dalam wilayah iblis, selalu dikepung dari luar dan dikhianati dari dalam. Dunia selalu berperang melawan Kristus dan Gereja-Nya, dan dunia di dalam Gereja selalu bersekutu dengan dunia. 


Pola itu ditetapkan selama kehidupan Kristus dan telah terjalin sepanjang sejarah selama dua ribu tahun terakhir. Kekuatan sekuler dari Pilatus dan Herodes dan seterusnya, selalu memiliki kekuatan politik yang jauh lebih besar daripada Gereja dan terus berperang dengannya. 


Adapun para prajurit Kristus, polanya ditetapkan oleh para Rasul pada saat-saat terakhir hidup Yesus. Dari 12 pria yang dipilih oleh Kristus untuk menjadi murid suci-Nya, satu diantaranya adalah pengkhianat, 10 adalah pengecut, dan hanya satu yang memiliki keberanian untuk menemani Bunda Kristus ke Golgota, berdiri bersamanya di kaki salib Yesus. 


Pola yang sama ini ada di sepanjang sejarah Gereja. Untuk setiap orang suci selalu ada pengecut yang lari mencari perlindungan segera setelah keadaan menjadi sulit atau berbahaya. Selalu ada pengkhianat yang siap mengkhianati Kristus dan para pengikutnya. 


Pola abadi ini, terjalin melalui sejarah, hadir di saat-saat baik maupun di saat buruk misalnya dalam sejarah abad pertengahan. Kala itu ketika kekuatan Kristen Roma tampak berjaya, paus diasingkan dari Roma sendiri bahkan pernah terjadi mengklaim diri Paus yang berseberangan 'Paus Roma". Saat-saat Gereja mendefinisikan ortodoksi, dunia sedang dicabik-cabik oleh ajaran sesat yang berusaha mengganggu magisterium Gereja. 


Ini adalah pola abadi yang terjalin selama berabad-abad. Tidak ada yang berubah, semuanya tetap sama. Desain abadi dan ditenun dengan tiga benang berbeda. Tali Utas pertama bagus; untaian kebajikan atau kesucian. Yang kedua buruk; untaian kesombongan dan kejahatan. Yang ketiga cantik; untaian yang memancarkan kemuliaan Penciptaan. 


Masing-masing dari ketiga untaian ini, mewakili tiga dimensi sejarah benang merah manusia, yang merujuk siapa kita: Homo Viator (orang baik), Homo Superbus (orang jahat), dan anthropos (penyair atau sub-pencipta).


Homo Viator adalah manusia peziarah atau manusia dalam pencarian surga yang bergumul dengan setan dan naga kehidupan, dibantu oleh rahmat yang dibutuhkannya. Dia tahu bahwa jika dia melayani Gereja dengan setia dan berani selama pelayanan aktifnya dalam kehidupan fana ini, dia akan diterima ke dalam Gereja Kemenangan selamanya.


Homo Superbus adalah manusia yang sombong, manusia yang menolak pengorbanan diri yang diperlukan untuk mengikuti pencarian dan yang melakukan urusannya sendiri, mengejar seleranya sendiri. Dia memegang kekuasaan di luar Gereja. (Dia tidak ditakdirkan untuk Kemenangan Gereja sampai atau kecuali dia bertobat.)


Sementara Anthropos menurut Plato, adalah dia yang memandang dengan takjub akan kebaikan, kebenaran, dan keindahan Ciptaan, melihat kehadiran Sang Pencipta dalam ciptaannya. Orang-orang seperti itu adalah penyair yang melihat keindahan dan, jika mereka diberi hadiah, menunjukkan keindahan kepada orang lain dengan cara sub-kreatif (musik, sastra, seni, arsitektur). 


Ketiga benang itu terjalin dalam sejarah manusia karena semuanya terjalin di dalam hati manusia. Adapun masing-masing dari kita, sebagai individu, menjawab panggilan Homo Viator, kita adalah prajurit Kristus di Gereja Militan (Gereja Berperang) yang harus berdoa memohon rahmat untuk mengalahkan naga kita sendiri.


Akhir dunia bagi kita masing-masing adalah saat kita mati. Satu-satunya tujuan hidup adalah masuk surga. Ini tidak mudah. Ini adalah perang. Surga adalah kemenangan. Kemenangan Gereja adalah pemenangnya. Kita, sebagai pejuang, akan bangkit bersama Kristus dalam kemenangannya, atau jatuh dari hadiratnya dengan memilih berperang untuk musuh. 



Manila, 25 November 2022

Garsa Bambang, MSF