News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Satu Hati Aneka Wajah

Satu Hati Aneka Wajah
Satu Hati Aneka Wajah



Oleh: Sil Joni*


Tadi malam, (Juma't, 4/11/2022) saya mengikuti acara Penutupan Bulan Rosario di Komunitas Basis Gerejani (KBG) Sta. Monika Wae Nahi. Acara itu dihelat di rumah kakak ipar saya, Mikael Nongko. Selain bersyukur atas penyelenggaran Tuhan terhadap anggota KBG ini selama pelaksanaan Doa Rosario, mereka juga bersyukur atas keberhasilan keluarga kakak Mikael dalam membangun rumah hunian yang layak. Dengan itu,  ada dua intensi dalam perayaan Ekaristi, yaitu penutupan bulan Rosario dan pemberkatan rumah baru.


Tulisan ini tidak bermaksud untuk 'memotret' secara detail pelbagai momen dalam acara itu. Fokus saya adalah melukiskan kehadiran 'aneka wajah' yang sehati dalam doa dan nyanyian syukur. Selain tempat untuk mendaraskan doa, rumah kakak Mikael ini menjadi 'medan perjumpaan' yang memungkinkan suasana keakraban termanifestasi secara paripurna.


Seperti biasa, seusai Misa Syukur, acara dilanjutkan dengan 'santap hidangan jasmani'. Para tamu diarahkan ke meja santapan untuk mengambil menu sesuai dengan ukuran dan kebutuhan perut masing-masing. Ada canda-tawa, guyon, dan perbincangan yang hangat dalam menjalani ritual menyantap ini.


Tak lupa, di penghujung acara santapan, tuan rumah menyuguhkan segelas bir untuk sekadar 'membersihkan rongga mulut' dan makanan yang masuk ke area lambung mudah dicerna. Senyum sumringah dan tawariah, menghiasi wajah tetamu yang datang. 


Selain anggota KBG Sta. Monika, tampak juga sejumlah anggota keluarga dari 'tuan pesta'. Saya termasuk salah satu dari anggota keluarga itu. Tentu, saya tidak seorang diri. Hadir pada kesempatan itu adalah kakak Matias Din bersama ibu dan kakak Dr. Bernadus Barat Daya yang juga ditemani oleh 'belahan jiwanya'.


Pastor yang menjadi selebran utama, P. Wilfridus Ribun, SVD pun termasuk salah satu dari anggota keluarga. Sedangkan, pak Marselinus Lukman, S. Fil, hadir dalam kapasitas sebagai 'ketua KBG'. Beliau bertugas sebagai 'pengangkat lagu' dalam perayaan Ekaristi Syukur itu.


Saya tertarik dengan momen perjumpaan antara P. Wilfrid, pak Marsel, dan pak Dr. Barat Daya. Seusai menyantap hidangan, ketiganya duduk di sebuah kursi panjang dan membentuk formasi 'trio' yang elegan.


Ketiganya, memang memiliki 'wajah yang berbeda', tetapi sebetulnya mereka bersatu hati dalam mengubah wajah peradaban. P. Wilfrid sedang menjalankan misi mulia, mengabarkan 'warta gembira tentang kehadiran dan keagungan Tuhan' kepada umat yang dilayaninya di Brazil.


Menghadirkan dan mewartakan Tuhan, tidak hanya melalui jalan imamat, tetapi juga dalam ruang politik. Jalan itu masuk dalam medan politik itu, sedang dirintis oleh pak Marsel saat ini. Sebetulnya, pak Marsel sudah dua kali berjuang untuk boleh mengabdi dalam ranah politik itu. Sayang sekali, dewi fortuna politik, belum menghampiri dirinya.


Meskipun demikian, pak Marsel tetap bersemangat untuk mengabdi di domain politik itu. Beliau dikabarkan masih tertarik untuk menjadi salah satu kontestan dalam pemilihan legislatif (Pileg) 2024 mendatang. Beliau sedang mempertimbangkan soal 'kendaraan politik' yang memungkinkan cita-cita itu menjadi kenyataan.


Sementara itu, Dr. Bernadus Barat Daya, rasanya layak didapuk sebagai pribadi yang punya debut dan reputasi yang relatif baik dalam dunia politik. Betapa tidak, dalam usia yang relatif muda kala itu, beliau terpilih menjadi Ketua KPUD Mabar yang pertama. Setelah 5 tahun menyandang predikat sebagai Ketua KPUD, Dr. Barat Daya secara meyakinkan terpilih menjadi salah satu anggota DPRD Mabar. Perolehan suaranya waktu itu, begitu meyakinkan. 


Beliau juga pernah maju sebagai calon bupati Mabar pada saat dirinya masih menjadi anggota DPRD Mabar. Yosef Ardis menjadi rekan duetnya kala itu. Pasangan itu dikenal luas dengan sebutan 'paket YES'. Sayang, dalam kontestasi Pilkada Mabar edisi 2010 itu, pasangan ini gagal menjadi kampium.


Hal yang sama dirasakannya ketika maju lagi dalam pileg periode berikutnya. Perolehan suaranya tak terlalu signifikan untuk mempertahankan kursi DPRD yang sudah diduduki sebelumnya. 


Gagal dalam kontestasi politik, seolah menjadi berkat tersembunyi untuk peningkatan karier akademiknya. Beliau mempunyai cukup waktu untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral (S3). Studi S3 itu diselesaikan dengan hasil yang sangat memuaskan. Dengan demikian, beliau secara resmi menyandang titel akademik tertinggi, doktor.


Dengan kapital intelektual yang mumpuni dan prestasi akademik yang menawan, membuat niatnya untuk melayani kepentingan orang banyak melalui jalur politik praktis, semakin mudah terwujud. Tetapi, ternyata dalam prakteknya, tidak semulus yang diidealkan. Buktinya, dalam kontestasi Pilkada Mabar 2020, beliau gagal di tahap kandidasi di internal partai. Kita tidak tahu pasti apakah Dr. Barat Daya masih memiliki motivasi yang kuat untuk berbakti secara total dalam bidang politik itu.


Apapun jawabannya, satu yang pasti bahwa pak Dr. Bernadus ini pernah 'mendonasikan hatinya' untuk peningkatan kebaikan publik (bonum commune) di Mabar. Jadi, baik P. Wilfrid, pak Marsel, maupun pak Bernadus, mempunyai 'hati yang luas' untuk menjadi pelayan publik. Pater Wilfrid tampil sebagai "penggembala umat". Sementara pak Marsel dan Dr. Barat Daya coba berjuang menjadi 'pelayan masyarakat'. 


Tujuan yang hendak digapai adalah menghadirkan dan menyalurkan berkat bagi sesama. Baik sebagai gembala agama maupun sebagai pastor politik, semuanya berangkat dari intensi dan hati yang sama, yaitu wajah Tuhan semakin bersinar dan mudah dikenali oleh sebanyak mungkin manusia. Tugas dan tanggung jawab boleh berbeda, tetapi tetap sehati dalam mengubah kondisi bonum commune.



*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.