News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kemartiran Yang Tak Sia-Sia

Kemartiran Yang Tak Sia-Sia
Kemartiran Yang Tak Sia-Sia


Kemartiran Yang Tak Sia-Sia - Seorang menjadi martir karena imannya. Maka ia berani mempertanggungjawabkan imannya tanpa melukai maupun membunuh orang lain termasuk membunuh diri sendiri. Bahwa ia disiksa bahkan dibunuh itu karena imannya tanpa pernah membalas dendam. 


Menjadi martir karena imannya pada kebenaran ajaran dari agama yang diterimanya tanpa pernah membuat klaim-klaim kesombongan bahwa agamakulah yang paling benar. Menjadi martir bukan soal merasa diri paling mayoritas dan yang lain minoritas. Singkatnya menjadi martir adalah merelakan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa orang lain bukan membunuh nyawanya termasuk membunuh nyawa orang lain (bdk. Luk 9:24-25).


Kemartiran bukanlah sebuah kesombongan dan pamer ke-imanan. Kemartiran adalah jalan iman yang bertahan dihadapan penderitaan sekalipun. Kemartiran semata karena dan demi Iman pada yang diimani. Senjatanya adalah iman dan bukan yang lain. Bahkan jalan kemartiran bukan dengan membunuh diri sendiri atau membunuh yang lain melainkan jalan sunyi dalam bisu untuk menerima penderitaan bahkan kematian sebagai jalan masuk kedalam penderitaan dan kematian Kristus.


Pada titik ini saya akhirnya sepakat bahwa kematian para martir kita bukanlah kematian yang “bodoh” dan sia-sia. Bukan karena untuk membela agama Katolik melainkan untuk menunjukan ketaatan dan kesetiaan pada iman akan Kristus. Agama Katolik hanya mendapatkan berkat dari kemartiran para martir. Bahwa darah mereka menjadi air kehidupan yang menumbuhkembangkan Gereja.


Dari teladan para martir saya akhirnya menyadari bahwa jalan menuju ke surga bahkan jalan menuju kepada kekudusan bukan melalui kematiaan yang sia-sia yang menyimpang dari kehendak Allah pun pula bukan merenggut nyawa orang lain melainkan melalui pengorbanan bahkan menjadi penyelamat bagi orang lain, sedang nyawanya sendiri menjadi taruhan karena mempertahankan imannya.


Imannya tak membuatnya menjadi sombong melainkan membuatnya semakin berani untuk menghadapi penderitaan dan penganiayaan karena meyakini bahwa kematiannya bukanlah buah dari kesombongan ajaran pun pula bukan dari klaim surga yang meninabobokan melainkan kematiannya adalah jalan bersama Yesus menuju Gologota dan bersama Yesus pula menuju Firdaus.


Kematian para martir semakin menyadarkan saya bahwa bukan sekedar menyebut nama Allah apalagi dengan dalih membela Allah namun ketaatan pada kehendak Allah yang dilaksanakan hingga tuntas dalam iman bahwa surga bukanlah milik semata bagi mereka yang berteriak nama Allah namun yang dalam kerendahan hati dan keteguhan iman melaksanakan kehendak Allah bahwa Ia semakin besar dan aku semakin kecil (bdk. Yoh 3:30).


Kematian para martir semakin menegaskan bahwa bukan mereka yang paling kuat berteriak nama Allah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga melainkan yang melaksanakan kehendak Allah; 


“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga.”  (Mat 7:21).


Manila: 08-Dec-2022

Tuan Kopong msf