News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Lihatlah Juru Selamatmu Telah Datang (Sebuah Renungan Natal)

 

Lihatlah Juru Selamatmu Telah Datang  (Sebuah Renungan Natal)
Lihatlah Juru Selamatmu Telah Datang  (Sebuah Renungan Natal)



"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud “(Lukas 2:10-11)


Kristus, Juruselamat kita, telah lahir dan terang-Nya bersinar di atas kita. Para malaikat bernyanyi di surga bahwa Juruselamat telah lahir bagi kita, seorang bayi mungil yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan di sebuah kandang ternak di Betlehem. Ia datang dan tinggal di antara kita, di dalam setiap hati yang terbuka kepada kehendak-Nya. Selanjutnya, Penginjil Lukas menulis secara detail peristiwa agung yang kita rayakan ini (Bdk., Luk 2:1-20).


Pertama, penginjil Lukas menggarisbawahi bahwa kehadiran Allah ke tengah dunia sesungguhnya terjadi dalam sejarah umat manusia yang nyata—sensus penduduk yang dicanangkan Kaisar Agustus, Betlehem sebagai latar geografis kelahiran Yesus dan bahwa Yusuf berasal dari keluarga Daud. Sesungguhnya Allah telah berinisiatif menjadi bagian dari kita, bagian dari keluarga manusia dan sebagai warga suatu bangsa. Kasih-Nya adalah kasih yang merendahkan diri, kasih yang terus-menerus mencari dan ingin berjumpa dengan setiap manusia. Bahwa Allah tidak hanya mencari kita melalui utusan dan para nabi-Nya, tetapi Ia datang sendiri, dengan rupa wajah dan tubuh manusia yang nyata, menjadi salah satu dari antara kita. Bahwa kasih-Nya yang nyata telah dapat ditemukan dalam segala sesuatu yang mengelilingi kita, dalam seluruh ciptaan, dalam keindahan ladang dan gunung, lautan dan sungai, burung-burung di udara, ikan dan segala binatang, dan di atas segalanya dalam diri seorang manusia.


Kedua, Kristus lahir ke dunia dalam sebuah kesederhanaan. Putra Allah tidak dilahirkan di istana yang mewah dengan segala kehormatannya. Ia dilahirkan dalam kesederhanaan sebuah kandang ternak “…dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan” (Luk 2:6-7). Tanda kehadiran Allah selalu melampaui akal pikiran manusia dan dalam peristiwa-peristiwa kecil kehidupan. Ia hadir dalam cara-cara sederhana, yang tidak terduga dan bahkan mengejutkan. Palungan tempat bayi Yesus dibaringkan membantu kita untuk merenungkan bahwa pola pikir Allah sangat jauh berbeda dengan logika dunia tempat kita hidup. Bahwa Tuhan ingin hadir dalam setiap kesederhanaan hidup manusia, dalam hati yang lapang dan penuh kasih, dalam diri pribadi yang terbuka terhadap kehendak-Nya. Bahwa belas kasih Allah tidak pernah menyerah meskipun acapkali ditolak— meskipun “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7);  Ia tetap datang untuk menjumpai dan tinggal di antara kita. 


Ketiga, para gembala adalah saksi pertama dari peristiwa besar ini. Pada zaman itu, pekerjaan gembala tergolong sebagai pekerjaan orang-orang yang terpinggirkan, sederhana dan miskin. Bahwasannya kasih Allah yang menjangkaui semua orang tanpa terkecuali, dimulai dari yang paling sederhana dan terpinggirkan. Justru kepada merekalah sukacita besar yang akan memperbarui dunia pertama-tama diterima: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10). Tidak ada golongan manusia yang merasa dianakemaskan dari belas kasih dan keselamatan Allah. Tidak ada seorang pun yang boleh merasa dikecualikan dan dikucilkan dari penggenapan kasih Allah yang termanifestasi dalam diri Kristus Yesus.


Keempat, setelah menerima berita sukacita dari malaikat Tuhan, para gembala tersebut tidak tinggal diam. Mereka bergegas ke Betlehem "untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan" (Luk 2:15), memuliakan keagungan Allah, dan bahkan menyebarkan berita itu kepada sesama yang lain sehingga “semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka” (Luk 2:18). Justru orang-orang yang terpinggirkan inilah yang bersukacita atas kedatangan Kristus ke dunia. Selanjutnya, kabar sukacita tersebut terus-menerus bergema di telinga kita dari tahun ke tahun. Hati kita tentunya selalu dipenuhi dengan kesan sukacita ketika kita sadar bahwa Hari Raya Natal telah tiba. Namun, apakah kita masih berkesempatan untuk menulari sukacita itu kepada sesama yang lain di tengah hiruk-pikuk kehidupan? 


Kelima, perayaan Natal bukan sekedar berkaitan dengan meja hidangan yang berlimpah makanan lezat dan saling bertukaran hadiah, senandung indah dan malam penuh bahagia bersama keluarga. Kisah Natal Kristus mestinya tidak membuat kita acuh tak acuh. Setiap perayaan Natal yang kita kenangkan dari tahun ke tahun mestinya menjadi sebuah perayaan identitas Kristiani kita, yakni kesempatan untuk menjadi jembatan kasih Tuhan bagi sesama sehingga dunia bisa menjadi sebuah komunitas di mana nilai-nilai kasih, perdamaian dan solidaritas menjadi nyata.


Keenam, seperti sang malaikat, seperti bintang yang memberi petunjuk dan para gembala yang bergegas ke Betlehem, marilah kita menjadi tanda-tanda sederhana kehadiran Tuhan. Seperti para gembala di Betlehem, marilah kita bergegas pergi membawa kabar sucakita Tuhan ini kepada semua orang yang kita jumpai setiap hari, kepada segenap anggota keluarga, para tetangga, dan handai tolan. Marilah kita menjadi “malaikat” yang selalu mewartakan kepada semua orang tentang kebaikan dan kasih karunia Allah sebagaimana telah diwujudnyatakan dalam diri Kristus yang lahir di kandang Betlehem. Marilah kita menjadi “bintang” bagi sesama, yang membawa dan menuntun mereka untuk berjumpa dengan Tuhan. Dan jadikanlah setiap hati kita palungan di mana Yesus ingin dilahirkan dan orang-orang di sekitar dapat merasakan kehadiran-Nya.


Ketujuh, semoga sukacita perayaan Natal kita tidak hanya sekedar kenangan akan kelahiran Yesus Kristus ke dunia, tetapi lebih sebagai kesiapsediaan hati kita dalam menghadirkan belas kasih Allah di tengah sesama. Selamat Natal untuk kita semua!


Oleh: Pater Gust KN