News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Renungan Minggu Adven II: Katolik Yang Ramah Dan Bukan Sombong (Mat 3:1-12)

 

Renungan Minggu Adven II  Katolik Yang Ramah Dan Bukan Sombong  (Mat 3:1-12)
Renungan Minggu Adven II: Katolik Yang Ramah Dan Bukan Sombong (Mat 3:1-12)



Renungan Minggu Adven II: Katolik Yang Ramah Dan Bukan Sombong (Mat 3:1-12)


Harus diakui meski hanya sekedar komentar atas status-status di facebook, ada juga oknum Katolik yang memperlihatkan kemarahan dan kesombongan dalam berkomentar.  Bahkan komentar pemarah dan sombong itu tidak hanya ditunjukan kepada oknum-oknum diluar Katolik tetapi juga didalam internal Katolik entah kepada sesama umat maupun serangan kepada Paus, para uskup dan para imam.


Kekecewaan tidak harus membuat kita memperpanjang daftar dosa kita dengan ungkapan kemarahan dan kesombongan. Kita boleh kecewa, tetapi keramahan dan kerendahan hari sejatinya harus menjadi kwalitas kekatolikan kita yang kita perlihatkan. Kecewa, namun justru memperbanyak dosa kita, kita tak ada bedanya dengan mereka yang kita “serang.” Kita menjadi orang yang “radikal” dan sombong.


Sebagai umat Katolik tentu kita tidak lupa dengan kejatuhan Adam dan Eva (lih. Kej 3:1-24). Kejatuhan mereka dalam dosa pertama-tama karena kesombongan mereka. Kesombongan itu membuat mereka tidak lagi mengandalkan Allah dan bahkan tidak lagi mengikuti perintah serta larangan Allah. Kesomobongan melemahkan iman mereka. Situasi itu kemudian dimanfaatkan oleh setan melalui seekor ular untuk mencobai mereka.


Karena mereka sudah dibutakan oleh kesombongan mereka, maka pencobaan ular itu dirasa selaras dengan kesombongan yang sedang diinginkan sehingga mereka akhirnya mengikuti godaan setan. Kesombongan membuat mereka tidak lagi membuat pembedaan roh yang tepat dan benar, karena yang menjadi fokus mereka adalah diri dan keinginan mereka sendiri dan bukan kehendak Allah.


Hari ini kita diajak oleh Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan Pertobatan. Yohanes Pembaptis tidak hanya mengajak kita untuk bertobat namun juga memperlihatkan satu teladan baik untuk pertobatan yaitu Kerendahan Hati. “Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa daripadaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya” (Yoh 3:11). Kerendahan hati Yohanes Pembaptis ini nampak jelas dalam kesaksiannya; “Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).


Masa Adven adalah masa untuk menghidupi kerendahan hati menuju pertobatan. Dan salah satu ungkapan kerendahan hati menuju pertobatan adalah dengan mengakukan dosa melalui sakramen pengakuan dosa. Mengakukan dosa adalah ungkapan kerendahan hati dan kesiapsediaan untuk bertobat. 


Sebaliknya ketidakmauan untuk mengaku dosa dengan alasan apapun artinya kita masih menunjukan kesombongan diri, tidak mau bertobat, tidak rendah hati dan masih suka menjadi hamba dosa.


“Katolik yang ramah adalah yang berani mengaku dosa dan menjadi sahabat kebaikan dalam semangat kerendahan hati dan bukan kesombongan.”


Manila: 04-Dec, 2022

Tuan Kopong msf