News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ekaristi Adalah Kerajaan Allah

Ekaristi Adalah Kerajaan Allah
Ekaristi Adalah Kerajaan Allah


“Dimana Ekaristi Dirayakan, Disitu ada Raja. Dan di mana ada Raja, disitu ada Kerajaan Allah.” (Scott Hahn, Reasons to Believe, p. 177).


Sebuah ungkapan yang indah dan mendalam dari seorang mantan pendeta di gereja Presbyterian dan kemudian menjadi seorang Katolik yang memberi kesaksian akan kebenaran ajaran Gereja Katolik melalui tulisan-tulisan apologetiknya.


Gereja tidak hanya berarti persekutuan umat beriman yang mengimani Kristus. Gereja juga tidak hanya berarti sebuah tempat di mana kita bisa berkumpul,  bersekutu dalam doa dan Ekaristi. Lebih dari itu, Gereja adalah Kerajaan Allah karena di Gereja itu Ekaristi dirayakan tidak hanya menjadi kenangan akan Perjamuan Malam  Terakhir melainkan penegasan dan penghadiran Yesus sebagai Raja.


Injil Lukas menghubungkan dengan jelas peristiwa Perjamuan Malam Terakhir  sebagai point dari tulisannya yang menghubungkan identitas Yesus sebagai Raja “Anak Daud” dengan Gereja  sebagai keturunan Daud “Kerajaan Allah.” Di meja Perjamuan Malam Terakhir Yesus membentuk kelompok Rasul sebagai wakil-Nya  yang melaksanakan tugas mereka di dalam nama Yesus. Demikian juga dengan altar. Di altar itu saat perayaan Ekaristi dirayakan, imam yang adalah rekan kerja Uskup sebagai wakil para Rasul bertindak atas nama Yesus.


Dalam perayaan Ekaristi, Gereja mempertegas kembali identitas Yesus sebagai Raja dan Kerajaan Allah. “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu (para Rasul), sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah. Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.” (Luk 22:15-18).


Dari Sabda ini menjadi jelas bahwa Yesus menekankan hubungan Ekaristi dengan Kerajaan Allah dan kedatangannya dan sesungguhnya Kerajaan Allah itu sudah datang. Yesus mengubungkan Kerajaan Allah dengan makan dan minum yang dari makan dan minum sebagaimana yang dirayakan dalam Ekaristi menjadi penampakan yang penting dari kehadiran Kerajaan Allah. Beberapa hari setelah Kristus bangkit dan makan bersama dengan para murid menjadi jaminan bahwa Kerajaan Allah sungguh-sungguh hadir.


Kata-kata institusi yang selalu diulang setiap kali perayaan Ekaristi di dalam Doa Syukur Agung menegaskan Yesus sebagai Raja dan yang diurapi ketika membagikan roti dan anggur: “Ini adalah Tubuh-Ku….ini adalah cawan…Cawan ini adalah Perjanjian Baru oleh Darah-Ku (Luk 22:19-20) dan kita mendengar juga kata-kata Yesus: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.” Tanpa perintah “sebagai kenangan akan Daku”, tidak akan ada kalimat institusi dan hanya menjadi sebuah cerita tentang Yesus pada perjamuan malam terakhir sebelum wafat.


Yesus memberi perintah kepada para Rasul untuk mengulang kembali perjamuan ini ketika Dia tidak lagi terlihat hadir sehingga kisah perjamuan terakhir menjadi kisah dasar bagi tindakan Gereja dalam Ekaristi (Kis 2:42, 46; 20:7, 11; 27:35). Kata-kata institusi tidak hanya menjelaskan peristiwa kematian Yesus tetapi juga menjelaskan kehadiran-Nya sebagai seorang Raja.


Kisah perjalanan ke Emaus secara jelas menghubungkan kehadiran Kristus sebagai Raja dengan Ekaristi. Sebagaimana mereka mengenal Kristus sebagai Raja Mesias ketika Ia mengambil dan memecahkan roti serta mengucap berkat (Luk 24:30.35), maka Ekaristi dalam dan melalui Ekaristi kita berjumpa dengan Yesus dan mengenal Dia sebagai Raja.


Dalam Perjamuan Malam Terakhir dan Kisah Emaus, kita belajar dan mengetahui bahwa Kristus yang bangkit sungguh hadir di dalam Roti (Tubuh Kristus) yang kita santap bersama. Peristiwa yang terjadi pada perjamuan malam terakhir dan kisah Emaus dirasakan kembali melalui perayaan Ekaristi ketika Tubuh Kristus dipecah-pecah dan disantap, di situlah kita mengenal Kristus yang hadir sebagai Raja.



Cf. Scott Hahn, Reason To Believe, Doubleday, New York, 2007, p.177.


Manila: 16-Januari, 2023

Tuan Kopong msf